Artikel
Artikel
Try Sutrisno dan Bulu Tangkis Indonesia
Try Sutrisno merupakan tokoh militer dan politik yang memiliki peran penting dalam sejarah Republik Indonesia, khususnya pada masa pemerintahan Presiden Soeharto (1967-1998). Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa tugas yang dilaksanakan, mulai dari ajudan Presiden Soeharto, Pangdam IV/Sriwijaya, Pangdam V/Jaya, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), hingga Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia (1993-1998). Namun, banyak yang belum mengetahui bahwa beliau pernah berkiprah di dunia olahraga, yakni sebagai Ketua Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI).
Selama dua periode, Try Sutrisno menjabat sebagai Ketua PBSI yaitu tahun 1985-1989 dan 1989-1993. Melalui Musyawarah Nasional (Munas) PBSI ke-14 di Surabaya tanggal 23-24 September 1985, beliau terpilih menggantikan Ferry Sonneville sebagai ketua umum PBSI. Pada masa awal kepemimpinannya, ia menghadapi tantangan berat untuk menaikkan prestasi bulu tangkis Indonesia yang saat itu sedang terpuruk. Upaya konkret yang dilakukan oleh Try Sutrisno untuk menaikkan prestasi bulu tangkis Indonesia yakni dengan mendirikan Pusat Bulu Tangkis Indonesia di Cipayung pada tahun 1992, pembinaan atlet-atlet muda, hingga pembinaan atlet-atlet di daerah.
Upaya menggenjot prestasi bulu tangkis Indonesia di dunia internasional selanjutnya membuahkan hasil dan mencapai puncaknya pada 1992 dengan memperoleh dua medali emas, dua medali perak, dan satu medali perunggu dalam Olimpiade Barcelona. Medali emas dari cabang olahraga bulu tangkis tersebut merupakan medali emas pertama bagi Indonesia selama keikutsertaannya dalam pesta olahraga Olimpiade. Medali emas tersebut diraih oleh Alan Budikusuma (tunggal putra) dan Susi Susanti (tunggal putri). Selain itu, medali perak diperoleh Ardy B. Wiranata (tunggal putra) dan pasangan Eddy Hartono / Rudy Gunawan (ganda putra). Medali perunggu diraih oleh Hermawan Susanto (tunggal putra).
Prestasi tim bulu tangkis Indonesia dalam Olimpiade Barcelona tahun 1992 tidak diraih secara instan atau bahkan kebetulan. Persiapan matang direncanakan secara sistematis dibawah komando Try Sutrisno. Pada munas PBSI di Manado 18 Desember 1989, beliau menunjuk Mangombar Ferdinand Siregar sebagai kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres). Ia merupakan seorang teknokrat olahraga sekaligus lulusan sport science dengan gelar Master of Physical Education dari Springfield College, Massachusetts, Amerika Serikat. Siregar selanjutnya membentuk tim kepelatihan dan memberikan ruang untuk para pelatih dalam mempersiapkan tim bulu tangkis Indonesia menuju Olimpiade Barcelona 1992.
Selain keberhasilan di Olimpiade 1992, bulu tangkis Indonesia dibawah komando Try Sutrisno juga mencatatkan sejumlah prestasi dalam ajang bergengsi. Beberapa diantaranya yakni Susi Susanti juara tunggal putri All England pada 1990, 1991, dan 1993; Ardy B. Wiranata juara tunggal putra All England 1991, Hariyanto Arbi juara tunggal putra All England 1993, Tim Indonesia meraih runner-up Piala Thomas 1986 dan 1992, serta Tim Indonesia meraih runner-up Piala Uber tahun 1986.
Try Sutrisno selesai menjabat sebagai ketua PBSI pada 1993 dan digantikan oleh Soerjadi. Meskipun sudah tidak menjabat sebagai ketua PBSI, fondasi bulu tangkis yang sudah dibangun olehnya mampu membuat prestasi Indonesia semakin meningkat. Hal tersebut dibuktikan dengan berhasilnya Tim Indonesia menjadi juara dalam Piala Thomas lima kali beruntun (1994, 1996, 1998, 2000, dan 2002). Selain itu, pemusatan latihan nasional (pelatnas) Cipayung yang merupakan peninggalan Try Sutrisno juga masih aktif digunakan untuk pembinaan atlet-atlet bulu tangkis Indonesia hingga saat ini.
Sumber:
Sapthiani, Y. (2026, 2 Maret). “Try Sutrisno dan Perannya untuk Bulu Tangkis Indonesia”. Diakses pada tanggal 4 Maret 2026, dari https://www.kompas.id/artikel/try-sutrisno-dan-perannya-untuk-bulu-tangkis-indonesia.
Wirayudha, R. (2019, 22 Agustus) “Siregar Bikin Bendera Merah Putih Berkibar”. Diakses pada tanggal 4 Maret 2026, dari https://www.historia.id/article/siregar-bikin-bendera-merah-putih-berkibar-vo1lj.
CNN Indonesia. (2026, 2 Maret). “Peran Penting Try Sutrisno di Balik Sejarah Emas Olimpiade 1992. Diakses pada tanggal 4 Maret 2026, dari https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20260302093256-170-1333244/peran-penting-try-sutrisno-di-balik-sejarah-emas-olimpiade-1992.
Artikel
Industri Sepeda di Era Presiden Soeharto: Dari ‘Kuda’ Turangga Hingga Federal yang Fenomenal
Sepeda merupakan alat transportasi yang telah ada sejak lama dan terus berkembang menjadi gaya hidup. Berbagai jenis sepeda hadir untuk menjawab perkembangan zaman sekaligus kebutuhan masyarakat akan olahraga menggunakan sepeda. Beberapa jenis sepeda yang umum digunakan oleh masyarakat antara lain: sepeda balap (road bike) untuk kecepatan, sepeda gunung (MTB) untuk medan yang berat, sepeda lipat untuk komuter atau aktivitas sehari-hari, hingga sepeda listrik yang kekinian.
Penggunaan sepeda, baik sebagai alat transportasi ataupun gaya hidup, di Indonesia begitu masif pada saat era Presiden Soeharto. Hal tersebut tak terlepas dari dukungan kebijakan Presiden Soeharto untuk mendirikan industri sepeda nasional yang dapat dijangkau oleh kalangan menengah bawah. Dua brand sepeda yang populer pada masa pemerintahan Presiden Soeharto adalah Turangga dan Federal.
Sepeda Turangga, ‘Kuda’ dari Indonesia
Produksi sepeda Turangga dimulai dari peresmian pabrik sepeda milik Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang oleh Presiden Soeharto pada tanggal 12 Juli 1974. Dalam acara tersebut, Presiden Soeharto memberi nama “Turangga” pada pabrik sekaligus merek dagang sepeda produksinya. Menurut Presiden Soeharto Turangga atau kuda merupakan salah satu dari lima syarat seorang laki-laki yang menurut nenek moyang untuk mengukur tingkat kesejahteraan manusia. Keempat syarat lainnya adalah wisma (rumah), wanita (istri), kukilo (burung) sebagai lambang hiburan, dan curigo (keris). Kepala kuda selanjutnya dipilih sebagai lambang sepeda.
Produksi sepeda Turangga ditujukan untuk membantu pegawai negeri di daerah-daerah yang memiliki permasalahan ekonomi terutama meningkatnya ongkos kendaraan untuk mobilitas mereka. Dengan pendirian pabrik sepeda Turangga diharapkan mampu menekan harga sepeda, sehingga terjangkau bagi anggota koperasi pegawai negeri. Dalam perkembangannya, produksi sepeda Turangga mengalami permasalahan dan berakhir merugi hingga pabrik sepeda harus dijual ke perusahaan swasta.
Federal, Sepeda Fenomenal Menlintas Zaman
Produksi sepeda Federal dilakukan oleh Astra pada tahun 1986. Astra, kala itu, melihat peluang tren bersepeda di Eropa serta berupaya untuk mengekspor produk sepeda Federal. Dalam perkembangannya, produksi sepeda Federal mencapai 500.000 unit sepeda per bulannya. Hal tersebut tidak terlepas dari tren dan gaya hidup bersepeda dikalangan masyarakat. Tren bersepeda menggunakan Federal juga diikuti oleh Presiden Soeharto. Pada saat memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September 1988, Presiden Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto bersepeda dari kediamannya di Jalan Cendana menuju Gondangdia, Jalan Medan Merdeka Barat, hingga berakhir di Lapangan Monas.
Pada tahun 1996 produksi sepeda federal dihentikan dan selanjutnya pada tahun 1997 pabrik sepeda federal ditutup. Pabrik sepeda Federal selanjutnya diminta oleh Federal Motor untuk diganti menjadi pabrik motor. Tutupnya pabrik sepeda Federal tidak terlepas dari isu politik dumping oleh Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). PT Federal Cycle Mustika (FCM) dianggap menjual sepeda di luar Indonesia lebih murah dibandingkan harga jual di Indonesia. Tahun 2004, MEE mencabut isu dumping sekaligus menyatakan Federal tidak melakukan isu politik dumping tersebut.
Sumber:
Team Dokumentasi Presiden RI. (2003). Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973 – 23 Maret 1978. Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda.
Isnaeni, H. (2020, 14 Juni) “Soeharto, Astra, dan Sepeda Federal”. Diakses pada tanggal 26 Februari 2026, dari https://www.historia.id/article/soeharto-astra-dan-sepeda-federal-pdlp7.
Subyandono, E. (2022, 25 Juli). “Peresmian Pabrik Sepeda Turangga”. Diakses pada tanggal 26 Februari 2026, dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/data/foto/peresmian-pabrik-sepeda-turangga.
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Artikel
Ragam Pengunjung Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Tahun 2025 (Bagian 2)
Apresiasi masyarakat melalui kunjungan ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tahun 2025 terbilang cukup besar. Berdasarkan data kunjungan tercatat 54.941 orang berkunjung ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti selama satu tahun. Dari jumlah kunjungan tersebut dapat dilihat kategori pengunjung yang begitu beragam, mulai dari peserta didik sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, mahasiswa perguruan tinggi, masyarakat umum, hingga turis mancanegara.
Karakteristik masyarakat yang berkunjung ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berdasarkan latar belakang domisili atau tempat asal juga sangat beragam, mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku, hingga Papua tercatat pernah berkunjung. Berikut rincian kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berdasarkan asal daerah:
| No | Asal Daerah | Jumlah |
| 1 | Bogor | 25.837 |
| 2 | Jakarta | 10.311 |
| 3 | Tangerang | 7.030 |
| 4 | Bandung | 2.992 |
| 5 | Bekasi | 2.664 |
| 6 | Depok | 2.933 |
| 7 | Sukabumi | 1.550 |
| 8 | Cimahi | 172 |
| 9 | Garut | 36 |
| 10 | Karawang | 64 |
| 11 | Brebes | 90 |
| 12 | Cilacap | 6 |
| 13 | Surakarta | 173 |
| 14 | Yogyakarta | 52 |
| 15 | Magetan | 25 |
| 16 | Ponorogo | 10 |
| 17 | Kalimantan Timur | 274 |
| 18 | Kalimantan Tengah | 124 |
| 19 | Kalimantan Selatan | 30 |
| 20 | Bengkulu | 85 |
| 21 | Sumatera Utara | 1 |
| 22 | Sumatera Selatan | 207 |
| 23 | Riau | 2 |
| 24 | Bangka Belitung | 58 |
| 25 | Jambi | 4 |
| 26 | Sulawesi Selatan | 14 |
| 27 | Sulawesi Tenggara | 15 |
| 28 | Nusa Tenggara Timur | 33 |
| 29 | Maluku | 1 |
| 30 | Papua | 34 |
| 31 | Mancanegara | 114 |

(Lima daerah dengan kunjungan paling banyak di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti)
Berdasarkan data kunjungan dan grafik di atas, Bogor merupakan daerah yang menyumbang jumlah kunjungan terbanyak dengan 25.837 orang. Disusul kemudian Jakarta (10.311 orang), Tangerang (7.030 orang), Depok (2.933 orang), dan Bandung (2.922 orang).
Banyaknya jumlah kunjungan yang berasal dari wilayah Jabodetabek tidak terlepas dari kegiatan outing class atau studi wisata yang sering dilakukan oleh sejumlah sekolah yang berada di wilayah Jabodetabek. Apabila membaca kembali data kunjungan museum berdasarkan kategori (Ragam Pengunjung Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Bagian 1), presentase kunjungan berdasarkan asal daerah berbanding lurus dengan jumlah kunjungan berdasarkan kategori yang didominasi oleh kalangan pelajar. Data kunjungan yang tercatat selama kurun waktu 2025 memberikan 2 gambaran sekaligus, yakni keberhasilan promosi dan publikasi museum menyasar wilayah yang ada di sekitarnya serta belum optimalnya promosi dan publikasi museum menjangkau wilayah yang lebih luas.
Masih minimnya jumlah kunjungan luar wilayah Jabotabek di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tahun 2025 akan dijadikan sebagai evaluasi untuk lebih memperkuat promosi dan publikasi museum. Bentuk promosi dan publikasi yang dapat dilakukan untuk menarik minat berkunjung ke museum antara lain: memperkuat kualitas dan produktivitas konten sosial media, membuat program publik rutin di museum, hingga menyelenggarakan program museum di ruang publik.
AYO ke MUSEUM!
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Artikel
Ragam Pengunjung Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Tahun 2025 (Bagian 1)
Optimalisasi layanan kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tahun 2025 telah dilaksanakan. Hal tersebut tidak terlepas dari fungsi museum untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat (PP 66 Tahun 2015). Strategi konkret dalam upaya mengomukasikan koleksi Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dilakukan dengan berbagai cara, seperti publikasi melalui sosial media, kegiatan Museum Goes To School, hingga program publik rutin. Tujuan dari optimalisasi layanan kunjungan museum adalah untuk meningkatkan apresiasi terhadap museum. Bentuk apresiasi tersebut terekam dalam data kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti.
Tahun 2025, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti telah mendapat apresiasi masyarakat yang berkunjung secara langsung ke museum. Kunjungan 2025 total sebanyak 54.941 orang yang terdiri dari berbagai kalangan dan asal daerah. Berikut rincian kunjungan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berdasarkan kategori:
| No | Kategori | Jumlah |
| 1 | Taman Kanak-Kanak | 4.188 orang |
| 2 | Sekolah Dasar | 16.936 orang |
| 3 | Sekolah Menengah Pertama | 16.618 orang |
| 4 | Sekolah Menengah Atas | 6.382 orang |
| 5 | Universitas | 1.590 orang |
| 6 | Umum | 9.113 orang |
| 7 | Mancanegara | 114 orang |


Berdasarkan grafik di atas, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti tercatat mendapat kunjungan paling banyak dari kalangan peserta didik sekolah. Lebih spesifik lagi, kunjungan paling banyak berasal dari peserta didik Sekolah Dasar. Para pengunjung tersebut juga berasal dari berbagai daerah.
Museum Kepresidenan RI Balai Kirti memiliki potensi yang besar untuk menjadi wahana edukasi sekaligus rekreasi bagi masyarakat luas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemanfaatan secara optimal koleksi yang dimiliki. Apresiasi masyarakat tahun 2025 akan menjadi acuan untuk terus meningkatkan layanan kunjungan bagi seluruh lapisan masyarakat.
AYO ke MUSEUM!
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Artikel
Presiden Abdurrahman Wahid: Kyai Penggemar Musik Klasik
Dalam beberapa biografinya, Presiden Abdurrahman Wahid diceritakan menyukai bermacam musik klasik serta kontemporer, baik dalam negeri, maupun mancanegara. Khususnya untuk musik klasik, sang Kyai ini memiliki banyak cerita menarik terkait hal tersebut. Dari diplomasi lewat seni hingga penyesalan ketika meninggalkan Istana Merdeka.
Untuk musik kontemporer, Presiden Abdurrahman Wahid dalam beberapa riwayat diketahui menyukai bermacam genre dari lagu Timur Tengah hingga musik populer Amerika. Ketika Presiden Abdurrahman Wahid sempat menyukai Umm Kulthum, penyanyi sohor dari Mesir tempat beliau berkuliah di Universitas Al-Azhar Kairo. Presiden Abdurrahman Wahid terkesima dengan lantunan suara berikut lirik dalam lagu yang dinyanyikannya. Tidak hanya itu, penyanyi perempuan dengan suara khas seperti Janis Joplin pun Presiden Abdurrahman Wahid kagumi. Seperti ketika diwawancarai oleh Radio BBC Inggris, beliau berseloroh menyukai lagu Me and Mcgee. Begitu juga dengan musik etnis lokal Tarling, Presiden Abdurrahman Wahid sempat diriwayatkan menyukai Diana Sastra dengan lagunya Remang-Remang. Dari luasnya khazanah musik yang Presiden Abdurrahman Wahid dengar, dapat terlihat sisi lain dari sang Kyai yang condong pada keberagaman.
Namun dari sekian banyak genre musik, Presiden Abdurrahman Wahid dapat dikatakan paling menyukai musik klasik. Salah satu musik favorit beliau adalah musik gubahan Beethoven. Pada satu wawancara, ketika ditanya apa yang Presiden Abdurrahman Wahid sesalkan saat tidak lagi menjabat sebagai presiden, jawabannya beliau menyesali bahwa koleksi CD musik klasik yang jumlahnya mencapai 27 rekaman tertinggal di Istana Merdeka. Kesukaannya terhadap musik klasik terpatri hingga menjelang akhir hayatnya. Pada satu riwayat, dikisahkan bahwa Presiden Abdurrahman Wahid meminta diputarkan Simfoni No. 9 gubahan Beethoven ketika beliau sedang dalam masa kritis.
Sumber foto: NU Online
Artikel
Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie: High Tech dan High Touch
Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan B.J. Habibie sudah memikirkan identitas bangsa Indonesia lewat musik sejak lama. Gagasan Presiden B.J. Habibie adalah hi-tech dan high touch yang memadukan teknologi dan seni sebagai bagian penting dalam proses pembentukan identitas berbangsa.
Kedekatan Presiden B.J. Habibie dengan musik dimulai sejak beliau remaja. Lagu Bengawan Solo menjadi lagu yang dibawakan oleh beliau dan kawan-kawannya ketika mengikuti lomba keroncong. Selain itu beliau juga pernah menyanyikan lagu Jambalaya yang dipopulerkan oleh Hank Williams saat perpisahan sekolah lengkap dengan gaya koboi. Ketika mengenyam pendidikan di Aachen, Jerman, musik yang berkesan bagi B.J. Habibie berjudul Sur le Pont d’Avignon yang justru berasal dari Prancis. Kala itu, teman sekamar Habibie bernama Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1993-1998, sedang belajar berbahasa Prancis lewat lagu tersebut. Namun tanpa dinyana olehnya B.J. Habibie malah lebih dahulu fasih menyanyikannya.
Kecintaan Presiden B.J. Habibie terhadap musik sebetulnya tergambarkan lewat lagu Sepasang Mata Bola ciptaan Ismail Marzuki. Lagu tersebut sempat mengiringi beberapa peristiwa penting dalam hidupnya termasuk, pada saat beliau sendiri mengalami era revolusi kemerdekaan Indonesia. Lagu Sepasang Mata Bola pernah dinyanyikan oleh Presiden B.J. Habibie ketika Peringatan Hari Anak Nasional di Istana Merdeka 23 Juli 1998, di mana saat itu Chikita Meidy mengajak Presiden B.J. Habibie untuk menyanyikan lagu Balonku, namun Presiden B.J. Habibie justru menyanyikan lagu Sepasang Mata Bola, Chikita Meidy kaget dan kurang mengetahui lagu tersebut, namun Presiden B.J. Habibie mengajak Chikita Meidy untuk mendengarkannya dan mengajarkan lagu ini. Lagu favoritnya ini, beliau minta kepada Yazeed Djamin, komponis kenamaan Indonesia, untuk digubah guna memapankan identitas musik klasik Indonesia. Sayangnya, Yazeed Djamin lebih dahulu wafat sebelum melengkapi proses realisasi ide tersebut. Di kemudian hari, Ananda Sukarlan diminta secara langsung oleh Presiden B.J. Habibie untuk meneruskan proses komposisi yang sudah dimulai Yazeed Djamin.
Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia
Artikel
Megawati Soekarnoputri dan Pemilihan Presiden 2004
Setelah memasuki era Reformasi, untuk pertama kalinya Pemerintah Republik Indonesia menyelenggarakan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tahun 2004. Pilpres 2004 diselenggarakan untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden periode 2004 sampai 2009. Pemilu Presiden pertama berlandaskan pada UU no 23 Tahun 2003 tentang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Sebagai penyelenggara pemilu, dibentuk Lembaga independent dan mandiri Bernama Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sementara presiden menjadi penanggung jawab pelaksanaan pemilu. Untuk mencegah tertundanya pelaksanaan pemilu, Presiden Megawati Soekarnoputri mengusulkan pembentukan KPU di daerah-daerah. Lembaga ini dinamai Perwakilan Sekretariat KPU dan didirikan di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota. Tugas Lembaga tersebut adalah mempersiapkan administrasi pelaksanaan pemilu sembari menunggu pembahasan empat undang-undang, yakni UU Partai Politik, UU Pemilu, UU Susunan dan Kedudukan Anggota DPR, DPD, dan DPRD, serta UU Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
Pada masa kampanye Pilpres 2004, Megawati Soekarnoputri memainkan peran yang penting dalam upaya untuk mempertahankan posisi presiden. Sebagai petahana, Megawati menggunakan pengalaman dan popularitasnya untuk memperkuat kampanyenya dan memperjuangkan visi dan program-programnya kepada masyarakat. Megawati yang merupakan putri dari Presiden pertama Indonesia, Soekarno, saat itu memperebutkan kursi presiden dengan calon lainnya, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Pada saat itu Megawati berpasangan dengan Hasyim Muzadi.
Pertarungan dalam Pilpres 2004 ini sangat ketat dan menarik perhatian publik. Megawati yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden, menghadapi kritik atas kebijakan-kebijakannya selama memimpin negara. Namun, di sisi lain, ia juga mendapatkan dukungan dari sebagian besar partai politik dan pendukungnya. Selama kampanye, Megawati didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai politik yang ia pimpin. Partai ini memberikan dukungan yang kuat dalam upaya memenangkan kembali posisi presiden bagi Megawati. Kemudian di tengah sorotan publik yang mengkritik kebijakan-kebijakannya selama memimpin negara, Megawati juga menyoroti prestasi dan pencapaian yang telah diraih selama kepemimpinannya. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya stabilitas politik dan keutuhan bangsa Indonesia di tengah tantangan dan persaingan politik yang semakin ketat. Selama proses dan hasil Pilpres 2004, Megawati Soekarnoputri tetap dihormati sebagai tokoh politik yang berpengaruh dan memiliki peran penting dalam dinamika politik Indonesia.
Pemilihan presiden tahun 2004 selanjutnya diselenggarakan dalam dua putaran. Putaran pertama diikuti oleh lima pasangan calon presiden dan wakil presiden. Total pemilih terdaftar yaitu sebanyak 153.320.544 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 122.293.844 orang atau 79,76 persen menggunakan hak pilihnya. Sementara lebih dari 20 persen lainnya memilih golongan putih atau golput.
Dari total jumlah suara, sebanyak 97,84 persen atau 119.656.868 suara dinyatakan sah. Pasangan nomor urut 1, Wiranto dan Salahuddin Wahid mendapatkan suara sebanyak 26.286.788 atau 22,15 persen. Pasangan nomor urut 2, Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi dengan suara 31.569.104 atau 26,61 persen. Sedangkan pasangan nomor urut 3, Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo mendapatkan suara 17.392.931 atau 14,66 persen. Pasangan nomor urut 4, Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla dengan suara sebanyak 39.838.184 atau 33,57 persen. Sementara pasangan nomor urut 5, Hamzah Haz dan Agum Gumelar mendapatkan suara sebanyak 3.569.861 atau 3,01 persen.
Putara kedua pemilihan presiden 2004 diselenggarakan pada tanggal 20 September 2004 dengan mempertemukan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dari total jumlah suara, sebanyak 114.257.054 suara atau 97,94 persen dinyatakan sah. Rincia pasangan Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi memperoleh dukungan sebanyak 44.990.704 suara atau 39,38 persen. Sedangkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla mendapatkan suara sebanyak 69.266.350 atau 60,62 persen. Berdasarkan hasil perolehan suara tersebut, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla akhirnya keluar sebagai pemenang.
Meskipun tidak berhasil mempertahankan jabatan presiden, Megawati tetap aktif dalam politik Indonesia, memperjuangkan kepentingan rakyat, dan menjadi sosok yang dihormati dalam berbagai forum politik dan sosial di tanah air. Pilpres 2004 menunjukkan bahwa meskipun Megawati kalah dalam pertarungan politik, namun ia tetap merupakan tokoh yang berpengaruh dan memiliki basis dukungan yang kuat di Indonesia. Megawati tetap aktif dalam politik Indonesia dan memegang peran penting dalam partainya, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dengan pengalaman yang dimilikinya, Megawati terus berjuang untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dan memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Sebagai salah satu figur politik wanita terkemuka di Indonesia, Megawati Soekarnoputri terus memberikan kontribusi yang berarti dalam membangun negara dan memperjuangkan keadilan bagi rakyat Indonesia.
Meskipun pada akhirnya Megawati kalah dalam Pilpres 2004 dan harus menyerahkan kekuasaan kepada Susilo Bambang Yudhoyono, namun ia tetap memberikan pernyataan yang bijak dan bersikap sebagai pemimpin yang menerima hasil dengan lapang dada dan tetap memberikan dukungan untuk kelancaran pemerintahan yang baru. Sikap ini dinilai menunjukkan kedewasaan politik dan sikap yang menghormati demokrasi.
Referensi:
Pour, Julis, dkk. 2014. Presiden Republik Indonesia 1945-2014. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
https://kesbangpol.kulonprogokab.go.id/detil/930/melihat-kembali-pemilihan-umum-presiden-pilpres-pertama-di-indonesia
https://news.detik.com/berita/d-4514180/singgung-pilpres-2004-2009-megawati-waktu-kalah-saya-nggak-ribut
https://nasional.kompas.com/read/2022/02/04/06050031/pilpres-2004–pertama-dalam-sejarah-pemilihan-presiden-digelar-langsung-?page=all
Penulis: Ezano Fernando Triantaka
Artikel
SD INPRES: TOREHAN PRESTASI BAPAK PEMBANGUNAN
Masa kepemimpinan Presiden Indonesia kedua, Soeharto dikenal pula dengan pemerintahan Orde Baru. Berbagai permasalahan yang dihadapi dalam berbagai bidang menuntut pemerintah melaksankan perbaikan terutama dalam bidang politik dan ekonomi Dimana pendidikan memegang peranan yang sangat penting sebagai sarana penunjangnya. Salah satu misi utama Pemerintah Orde Baru dalam melaksanakan Pembangunan yang sistematis dan terencana ialah melaksanakan dan mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
Awal masa Orde Baru, aspek pendukung pendidikan dasar sangatlah kurang, maka sejak lahirnya pemerintah Orde Baru, Pembangunan sektor pendidikan menjadi salah satu perhatian utama. Kebijakan pemerintah Orde Baru untuk mewujudkan cita-cita bangsa tersebut salah satunya adalah program Wajib Belajar, Program tersebut mewajibkan setiap anak yang berumur 8 tahun memperoleh pendidikan dasar, sehingga Presiden Soeharto mengeluarkan Intruksi Presiden tentang Pembangunan Sekolah Dasar.
Pembangunan SD Inpres mulai dibangun setelah dikeluarkannya Intruksi Presiden tahun 1973, yang merupakan kebijakan dua tahun sekali. Pendidikan dasar menjadi salah satu pondasi yang sangat penting bagi manusia, semua aspek pendukung pendidikan harus ada, agar menjadikan negara yang maju di masa yang akan datang. Namun di awal masa pemerintahan Orde Baru, semua aspek pendukung tersebut sulit terwujud, karena masih banyak anak-anak usia sekolah (7-12 tahun) yang tidak sempat menikmati pendidikan, dan banyak juga anak-anak yang meninggalkan sekolah sebelum waktunya karena berbagai alasan.
Presiden Soeharto sebagai pemimpin pemerintahan pada masa itu menuangkan pokok-pokok pikiran beliau tentang pendidikan dalam pidato-pidato yang disampaikan pada berbagai kesempatan. Berdasarkan pokok-pokok pemikiran tersebut ini kemudian tercetuslah pemikiran untuk membangun Sekolah-sekolah dasar dan memperbaiki seluruh Gedung-gedung sekolah yang sudah rusak. Hal itu mendasari dikeluarkannya Intruksi Presiden (Inpres) No. 10 Tahun 1973 tentang program bantuan pembangunan Sekolah Dasar dalam beberapa tahap untuk Pembangunan 6.000 unit gedung Sekolah Dasar.
Perkembangan selanjutnya, melalui Inpres No 6 tahun 1975 pada tanggal 10 April 1975 terdapat penambahan bantuan baik sarana maupun jumlah yang dibangun menjadi 10.000 unit. Pemerintah mengeluarkan program-program pendukung kebijakan SD Inpres, diantaranya adalah pembuatan kurikulum pendidikan, sistem pendidikan, penataran dan penempatan guru, penambahan buku-buku Pelajaran, penambahan alat-alat peraga untuk menunjang pembelajaran dan Pembangunan sarana prasarana lainnya.
Setelah berjalan sekitar satu dekade/10 tahun, kebijakan Pembangunan SD Inpres ini mengalami kritik dan kontroversi terkait dengan pembiayaan dan kualitas pendidikan, namun kehadirannya tetap berdampak pada peningkatan jumlah anak Sekolah Dasar pada tiap tahunnya dan semakin banyaknya gedung-gedung Sekolah Dasar khususnya di desa-desa terpencil walaupun pembangunannya belum merata ke seluruh pelosok-pelosok desa di Indonesia, Namun demikian program bantuan Pembangunan SD Inpres tersebut, tetap menjadi torehan prestasi Presiden Soeharto sebagai seorang pemimpin negara Indonesia dan juga menjadi simbol kemajuan pendidikan pada masa itu. Selain itu, Pembangunan SD Inpres juga turut mendukung pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Atas keberhasilan program ini, pada tanggal 19 Juni 1993 UNESCO memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Presiden Soeharto berupa piagam The Avicenna yang diambil dari nama seorang tokoh ilmu pengetahuan dari Timur Tengah pada abad X, Ibnu Sina. Beliau adalah seorang filosof dan ilmuan bidang kedokteran yang Namanya diabadikan menjadi simbol penghargaan di bidang pendidikan dan etik dalam sains.
Referensi:
Panji Hidayat; Perkembangan SD Inpres pada Masa Orde Baru Tahun 1973 – 1983. Journal student Universitas Negeri Yogyakarta
Dwipayana G & Nazarudin Sjamsuddin. (2003). Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973- 23 Maret 1978. Jakarta. PT. Citra Kharisma Bunda
Penulis: Ezano Fernando Triantaka
Artikel
Ganefo, Perjuangan Meningkatkan Martabat Bangsa Melalui Olahraga
Situasi dunia saat berlangsungnya Perang Dingin membuat Presiden Sukarno menyatakan bahwa dunia tidak terbagi dalam Blok Barat dan Blok Timur, tetapi terbagi menjadi 2 Blok yaitu New Emerging Forces (Nefo) dan Old Established Forces (Oldefo). Negara maju memegang dominasi atas negara berkembang di segala aspek kehidupan dalam konteks internasional. Presiden Sukarno ingin mengubah tatanan dunia seperti ini, dengan mengemukakan konsepsi baru yang selaras dengan kebijakan politik luar negeri Indonesia yaitu untuk melawan imperialisme-kolonialisme dengan segala bentuk dan manifestasinya dengan menggunakan konfrontasi.
Kebijakan konfrontasi Presiden Sukarno, selain dalam masalah politik juga dilakukan dalam bidang olahraga, yaitu pelaksanaan Games Of The New Emerging Forcesatau (Ganefo), karena bersitegang dengan International Olympic Comitte (IOC). Ganefo adalah tinta emas yang pernah ditorehkan Indonesia dalam kompetisi olahraga berskala internasional yang pernah diselenggarakan Indonesia dan menjadi kebanggaan saat pemerintahan Presiden Sukarno pada tahun 1963. Presiden Sukarno dengan semangat nasionalisme berani menentang hegemoni barat melalui arena olahraga dan mampu mengangkat nama Indonesia dalam percaturan politik internasional.
Indonesia memandang olahraga telah menjadi lahan imperialisme bagi negara maju, khususnya dunia barat, dengan menggunakan IOC sebagai alat imperialisnya. Intervensi dunia barat terhadap pelaksanaan beberapa kegiatan olahraga seperti Olimpiade dan Asian Games. Skorsing IOC yang mengakibatkan Indonesia tidak dapat berpartisipasi dalam Olimpiade karena alasan yang tidak wajar membuat Indonesia berusaha untuk mencari solusi agar prinsip yang dipegang teguh Indonesia selalu dapat diperjuangkan salah satunya dengan menyelenggarakan Ganefo. Yang diharapkan mampu mengangkat nama Indonesia dan membuka mata dunia internasional, jika Indonesia adalah salah satu kekuatan baru di Benua Asia, di bawah kepemimpinan Presiden Sukarno.
Ganefo adalah salah satu peristiwa sejarah yang diharapkan mampu menumbuhkan kembali rasa nasionalisme dan kebanggaan para generasi penerus bangsa untuk melanjutkan api semangat yang telah dikobarkan Soekarno. Bagi Soekarno Ganefo adalah pijakan awal untuk menggalang kekuatan negara-negara yang tergabung dalam Nefo karena Indonesia berhasil mendapatkan perhatian dunia dan menjadi negara yang patut diperhitungkan eksistensinya. Indonesia dijadikan simbol bagi perlawanan terhadap imperialisme dan membuktikan dalam situasi keterbatasan mampu menyelenggarakan kegiatan bertaraf internasional dengan kesungguhan dan tekad untuk melakukan sesuatu yang bagi sebagian orang mustahil dilakukan, sesuai dengan semboyan Ganefo“On Ward! No Retreat.
Ganefo juga merupakan wujud kebijakan luar negeri yang mampu membangkitkan reaksi nasionalis bangsa Indonesia untuk mengubah peranan Indonesia dalam dunia internasional sebagai pemimpin negara baru berkembang. Momentum skorsing IOC dimanfaatkan oleh Presiden Sukarno sebagai alat pemersatu rakyat Indonesia untuk melawan bentuk imperialisme di bidang olahraga dan mewujudkan konsepsi politik luar negerinya, karena hal itu dianggap sebagai salah satu bentuk isolasi terhadap Indonesia dalam bidang olahraga yang bertujuan untuk menghambat eksistensi Indonesia dalam pergaulan dunia internasional,
Pelaksanaan pesta olahraga seperti Ganefo, walaupun hanya dilaksanakan dua kali pada tahun 1963 dan 1966 namun dapat digunakan untuk menggali nilai-nilai peruangan, salah satunya jiwa nasionalisme bangsa yang lebih dikenal dengan sebutan Nation Character Building. Olahraga juga dapat digunakan sebagai upaya pembentukan karakter dan kepribadian bangsa Indonesia, karena mampu menanamkan sikap keberanian, kepercayaan diri, semangat berjuang memperoleh kemenangan, penghargaan kepada lawan, rasa tanggung jawab, gotong royong, harga diri, dan optimisme.
Sumber:
Kurniawan, B., & Alrianingrum, S. (2013). Gaenfo Sebagai Wahana Dalam Mewujudkan Konsepsi Politik Luar Negeri Soekarno 1963-1967. Avatara. 1(2). 188-197
Susilo, W. (2021, 2 Agustus). Ganefo Mengganyang Olimpiade. Diakses pada tanggal 7 Juni 2024. https://historia.id/olahraga/articles/ganefo-mengganyang-olimpiade-DwrMA
Penulis: Enik Suryani Saptorini
Artikel
BJ Habibie dan Perkembangan Industri Kereta Api Indonesia
Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie adalah presiden ketiga Republik Indonesia yang memiliki latar belakang sebagai seorang teknokrat. BJ Habibie menempuh pendidikan tinggi di Universitas RWTH Aachen, Jerman Barat, pada tahun 1955. Di universitas tersebut, BJ Habibie mendalami teknik penerbangan dengan penjurusan konstruksi pesawat terbang. Setelah lulus, BJ Habibie juga sempat berkarier di Jerman dengan bekerja di perusahaan kereta api Jerman, Waggonfabrik Talbot, pada 1962. Tidak hanya itu, BJ Habibie juga pernah bekerja di perusahaan manufaktur penerbangan Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hamburg. Selama bekerja di Perusahaan tersebut, BJ Habibie mengembangkan sejumlah teori thermodinamik, konstruksi, dan aerodinamik yang dikenal dengan sebutan Teori Habibie, Habibie Factor, atau Metode Habibie, sehingga beliau mendapat julukan MR. CRACK.
Setelah berkarir di Jerman, BJ Habibie kembali ke Indonesia dan terlibat secara aktif dalam pengembangan industri dan teknologi nasional. Salah satu industri yang dikembangkan oleh BJ Habibie adalah industri transportasi kereta api. Pengembangan industri perkeretaapian nasional diwujudkan dengan pembangunan industri kereta api, yaitu PT Industri Kereta Api (PT INKA) sebagai badan usaha milik negara Indonesia yang bergerak di bidang produksi sarana perkeretaapian pada tahun 1981. Melalui PT Inka, BJ Habibie ingin menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap produk kereta api luar negeri. Dengan perkembangannya yang begitu pesat, PT INKA selanjutnya dapat mengekspor kereta api ke sejumlah negara seperti Bangladesh, Filipina, Sri Lanka, dan beberapa negara di Afrika.
Pemikiran cerdas BJ Habibie pada saat itu mewajibkan setiap pembelian kereta api harus dirakit di Indonesia dengan tujuan agar bisa terjadi transfer ilmu pengetahuan di bidang perkeretaapian. Suatu hal yang membanggakan dan harusnya menjadi perhatian pemerintah untuk terus mendukung kinerja PT. Inka sebagai perusahaan milik negara yang dapat menghasilkan profit guna menambah devisa negara. Perkembangan selanjutnya PT. INKA juga mulai merakit Kereta Rel Listrik (KRL) pada tahun 1987, memproduksinya pada tahun 1994 dan diluncurkan pada tahun 2001. Akhirnya pada tahun 2019 perusahaan ini juga berhasil menyelesaikan produksi rangkaian Light Rail Transit (LRT) Jabodetabek.
Peranan BJ Habibie yang besar dalam pengembangan infrastruktur, industri, dan pariwisata kereta api di Indonesia, menunjukkan betapa pentingnya peran seorang pemimpin yang memiliki visi jauh ke depan dan komitmen untuk mewujudkan kemajuan bangsa. Semoga inspirasi dan dedikasi beliau dalam bidang transportasi ini dapat terus menginspirasi generasi penerus untuk terus mengembangkan industri kereta api di Indonesia.
SUMBER :
Buku Mr. Crack dari Parepare/ A. Makmur Makka, Muh. Iqbal Santosa-Jakarta; Republika Penerbit, 2018
https://jatim.solopos.com/jejak-karya-bj-habibie-di-perusahaan-kereta-api-negara-1018211/amp
https://www.cnnindonesia.com/internasional/20190913143240-106-430282/warga-kehormatan-jerman-dan-prestasi-habibie-di-kancah-dunia
https://bisnis.tempo.co/read/1246726/bj-habibie-berpulang-menhub-kenang-jasa-bangun-pt-inka
Penulis: Ezano Fernando Triantaka
Artikel
Libur Ramadan Satu Bulan Penuh Era Gus Dur
Abdurahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai tokoh muslim yang toleran, moderat, dan memiliki pemahaman agama yang luas. Pada tahun1999, Gus Dur resmi menduduki kursi jabatan presiden Republik Indonesia ke – 4 menggantikan Presiden B.J. Habibie. Salah satu momen yang dikenang dalam sejarah kepresidenan Gus Dur adalah libur Ramadan selama 1 bulan penuh. Gus Dur tidak hanya sekedar meliburkan sekolah begitu saja, melainkan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) mengimbau sekolah-sekolah untuk membuat kegiatan pesantren kilat pada tahun 1999. Keputusan untuk memberikan libur Ramadan selama 1 bulan penuh ini merupakan kebijakan yang sangat memperhatikan dan memberikan kesempatan bagi anak-anak sekolah agar lebih fokus dalam belajar agama Islam.
Sebelum masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur), kebijakan libur puasa telah diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah kolonial Hindia Belanda meliburkan sekolah binaan mereka dari tingkat dasar (HIS) sampai tingkat menengah keatas (HBS dan AMS). Selanjutnya pada masa Pemerintaha Presiden Soekarno, pemerintah menjadwalkan ulang sekaligus menghentikan sementara kegiatan-kegiatan resmi dan non-resmi untuk memberikan kesempatan kepada umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.
Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatur batasan hari libur puasa menjadi beberapa hari saja. Hal tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak, salah satunya Majelis Ulama Indonesia. Namun, Daoed Joesoef (Menteri P dan K) pada saat itu beranggapan bahwa pelaksanaan hari libur secara penuh seperti yang dilakukan oleh pemerintah kolonial hanya merupakan kebijakan pembodohan. Daoed Joesoef pun selanjutnya mengeluarkan Surat Keputusan P dan K No. 0211/U/1978 Surat Keputusan tersebut secara garis besar menghimbau masyarakat untuk tetap mengisi kegiatan waktu libur.
Waktu libur sekolah sebagai bagian integral dari strategi dan kegiatan Pendidikan secara menyeluruh berfungsi; sebagai waktu jeda sesudah satu periode belajar disekolah guna memulihkan tenaga jasmani dan Rohani dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi periode belajar berikutnya sebagai waktu jeda yang dapat digunakan oleh guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk mengikuti program penataran. Selain itu juga untuk menghormati hari besar tertentu bagi pembinaan jiwa social, budaya, agama, seni, pengetahuan dan laiu-lain. Serta dapat dimanfaatkan sebagai pembinaaan mental fisik dan pembinaan rekreasi. Dan konsentrasi Pendidikan dari sekolah ke Pendidikan pada keluarga dan masyarakat.
Pentapan kembali sekolah libur 1 bulan penuh di bulan Ramadan menjadi momentum bersejarah yang dikenang oleh banyak orang sebagai salah satu bentuk perhatian dan kepedulian Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) terhadap umat muslim. Semoga semangat toleransi, keadilan, dan kepedulian yang beliau miliki terus menginspirasi kita semua untuk menjaga persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Referensi:
https://historia.id/agama/articles/libur-puasa-anak-sekolah-zaman-belanda-DnwKa/page/1
https://historia.id/agama/articles/alasan-libur-puasa-anak-sekolah-ditiadakan-vgLo0/page/3
https://peradaban.id/gus-dur-dan-kebijakan-libur-selama-bulan-ramadan/
https://serayunews.com/kebijakan-libur-sekolah-ramadan-sejak-zaman-kolonial
Penulis: Ezano Fernando Triantaka
Artikel
Presiden Soeharto: Membangun Bangsa dan Warisan Budaya Musik
Masa kepemimpinan Presiden Soeharto diwarnai pula oleh pembangunan pada segi budaya serta pelestarian warisan budaya Indonesia, khususnya musik. Musik-musik tradisional Indonesia sering kali memeriahkan berbagai acara kenegaraan. Kecintaan Presiden Soeharto pada gamelan bahkan berdampak signifikan pada perkembangan musik gamelan. Setiap lini institusi pemerintahan kala itu serentak menambahkan kegiatan bermusik berbagai musik daerah di Indonesia.
Selain gamelan, Presiden Soeharto juga menggemari keroncong. Waldjinah sering kali diundang ke Istana Negara untuk memeriahkan berbagai acara negara maupun acara keluarga Presiden Soeharto. Beliau bersama Ibu Negara Tien Soeharto juga giat mendatangi acara-acara musik tradisional. Di beberapa kesempatan, Presiden Soeharto dan Ibu Tien juga menyatakan kecintaan mereka pada musik sasando dari Nusa Tenggara Timur.
Sosok Presiden Soeharto sebagai presiden juga menjadi inspirasi bagi para musisi untuk menciptakan lagu. Hal ini dapat terlihat dari lagu “Bapak Kami Soeharto” yang dinyanyikan oleh Titiek Puspa dan juga “Bapak Pembangunan” oleh Tuti Kanta.
Beberapa musik favorit Presiden Soeharto dan lagu yang terinspirasi oleh Presiden Soeharto:
- Waldjinah – Ditinggal Kekasih (Lagu ini bercerita tentang kisah sedih seorang perempuan yang ditinggal pergi kekasih hatinya)
- Waldjinah – Waldjinah – Walang Kekek
- Lilis Suryani – Gang Kelinci
- Tuti Kanta – Bapak Pembangunan (Lagu yang terinspirasi oleh sosok Presiden Soeharto, Lagu ini bercerita mengenai banyak peran Presiden Soeharto dalam membangun Indonesia)
- Titiek Puspa – Bapak Kami Soeharto (Lagu yang diciptakan oleh Titiek Puspa secara khusus untuk Presiden Soeharto. Lagu ini bercerita mengenai banyak peran Presiden Soeharto dalam membangun Indonesia).
Sumber foto: Museum Purna Bakti Pertiwi