Melihat Indonesia dari Kitab Negarakertagama
Informasi
Penulis: Nurul Aini
Wilayah Nusantara dahulu pernah meliputi hingga sebagian negara Asia Tenggara semasa pemerintahan Kerajaan Majapahit. Peta wilayah kekuasaan Majapahit ini dilukiskan dengan apik oleh pelukis kontemporer Eddy Susanto yang karyanya dipamerkan di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Bila dilihat sepintas, tidak tampak adanya perbedaan dengan wilayah Nusantara masa kini. Eddy menggunakan perbedaan warna pada peta untuk menggambarkan batas antara wilayah kerajaan dan non-kerajaan. Cakupan wilayah kerajaan Majapahit ini diambil dari Kitab Negarakertagama, sebuah kitab sastra Jawa Kuno yang ditulis oleh seorang pujangga pada masa itu. Inkripsi teks kitab ini secara detail dituliskan di atas lukisan peta Nusantara dalam 3 tulisan; aksara Jawa Kuno, transliterasi Jawa Kuno, dan Bahasa Indonesia. Sebagai seorang pelukis yang karya-karyanya sangat kental dengan sejarah, Eddy berhasil menggabungkan guratan artistik lukisan, aksara, dan nilai sejarah dengan sangat indah. Lukisan Peta Indonesia dengan Kitab Negarakertagama ini merupakan salah satunya.
Lalu apa hubungannya dengan tema kepresidenan di museum?
Kitab Negarakertagama, sebuah kitab sastra Jawa Kuno yang berusia lebih dari 600 tahun ini digubah oleh Mpu Prapanca, seorang pujangga atau kawi Kerajaan Majapahit. Kitab ini berisi kakawin atau kidung-kidung pujian untuk memuja keagungan Majapahit dan Raja Hayam Wuruk yang ketika itu bertahta. Kitab ini juga dikenal sebagai Kitab Desawarnnana yang namanya diambil dari kata desa yang berarti daerah atau wilayah-wilayah dan warnnana yang berarti deskripsi, pelukisan, penceritaan, bentuk, penampilan, dan warna. Nama tersebut menggambarkan isi dari kitab itu sendiri, dimana dalam kidung-kidungnya diceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk yang berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara (Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, hingga Irian) dan wilayah di luar Nusantara (Tumasik dan Brunei) dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Mpu Prapanca menulis kakawin ini di atas lembaran daun lontar menggunakan aksara Jawa Kuno yang tersusun dengan rapi. Namun kini alih aksara media kakawin hingga terjemahan Bahasa Indonesia telah banyak diterbitkan, utamanya dengan tujuan melestarikan sejarah peradaban bangsa.
Peradaban Nusantara yang dahulu pernah jaya hingga ke negeri seberang menjadi salah satu penyulut semangat Presiden Sukarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kejayaan Majapahit yang dahulu pernah menyatukan Nusantara, mengilhami Sukarno bahwa Indonesia mampu merdeka dari belenggu penjajahan dengan perjuangan bangsanya sendiri. Semangat ini yang beliau refleksikan dalam setiap langkah politik, diplomasi, dan orasi-orasi yang berhasil membangkitkan semangat persatuan bangsa. Di dalam pledoi Indonesia Menggugat pada sidang kolonial Belanda, Sukarno juga menyinggung kejayaan kerajaan-kerajaan Indonesia ini.
“Siapakah orang Indonesia yang tidak hidup semangat nasionalnya, kalau mendengarkan riwayat tentang kebesaran kerajaan Melayu dan Sriwijaya, tentang kebesaran Mataram yang pertama, kebesaran zaman Sindok dan Erlangga dan Kediri dan Singasari dan Majapahit…..”
Sejarah nasionalisme Sukarno ini yang menginspirasi Eddy Susanto melahirkan karya lukis ini. Semangatnya dalam mendokumentasikan sejarah melalui media seni lukis beliau harapkan dapat menjadi knowledge art yang memantik diskusi, perbincangan, dan menjadi arsip sejarah Indonesia. Sejarah yang dihidupkan dalam karya lukis ini juga membawa keyakinan sang pelukis bahwa negara ini hebat dan memiliki potensi yang besar untuk terus maju.
Sumber:
Alit, D.M., dkk. (2022). Negarakertagama: Kisah Keagungan Kerajaan Majapahit. Jurnal Nirwasita, 3(1), 31-42.
Kleden, L., dkk. (2025). Tafsir karya-karya Sukarno Telaah Hermeneutis atas Surat dan Tonil di Ende. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Jakarta. https://bpip.go.id/public/buku/wp-content/uploads/2025/06/Tafsir-Karya-Sukarno-Final.pdf
Pradita, L.E., Jendriadi. (2023). Analisis Wacana Kritis Buku Kakawin Negarakertagama Karya Mpu Prapanca. Journal of Education Research, 4(4), 2011-2024.
Soekarno. Indonesia Menggugat.