Artikel

Memancing Ikan Ala Presiden Soeharto: Dari Hobi Hingga Diplomasi



Memancing Ikan Ala Presiden Soeharto: Dari Hobi Hingga Diplomasi

Informasi

Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo

Presiden Soeharto dikenal sebagai sosok yang tegas dan memegang disiplin kuat dalam menjalankan kepemimpinan nasional. Namun, dibalik itu beliau juga dikenal sebagai sosok yang santai sekaligus humanis. Aktivitas santai yang sering terlihat adalah ketika ia memancing ikan. Memancing ikan kerap dilakukan oleh Presiden Soeharto ditengah-tengah kesibukannya melakukan incognito atau blusukan ke daerah-daerah. Memancing di laut sepertinya menjadi ruang bagi beliau untuk merenung dan melatih kesabaran.

Aktivitas memancing ikan di laut yang dilakukan oleh Presiden Soeharto juga menjadi kenangan tersendiri bagi para kerabat dekatnya. Harmoko (Menteri Penerangan periode 1983-1997) dalam buku “Pak Harto The Untold Stories” menceritakan kisahnya saat memancing ikan bersama beliau di Kepulauan Seribu tahun 1978. Ketika itu, sedang berkembang rumor yang menarik seputar hobi memancing Presiden Soeharto, dan Harmoko memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau apakah benar bahwa pasukan mariner selalu ada di bawah laut untuk membantu, sehingga Presiden Soeharto bisa mendapat banyak ikan. Sambil tersenyum Presiden Soeharto hanya menjawab, “lihat saja nanti”. Namun tentu saja rumor tersebut tidak benar. Presiden Soeharto selalu mendapat banyak tangkapan ikan karena kesabaran dan kepandaiannya dalam memancing.

Cerita menarik lainnya seputar aktivitas memancing Presiden Soeharto juga dikisahkan oleh mantan pengawalnya yang bernama Eddie Marzuki Nalapraya. Saat rombongan presiden hendak berangkat, Ibu Tien Soeharto tiba-tiba mengetuk-ngetuk kaca mobil. Mengetahui hal tersebut, Eddie segera menurunkan jendela kaca mobilnya dan mengatakan, “’Siap! Saya Bu!’. Ibu Tien Soeharto selanjutnya berpesan “Jangan mancing ikan yang rambutnya panjang, ya,” kenang Eddie. Soeharto pun, ikut tersenyum mendengar candaan itu.

 

Diplomasi Memancing Ikan Ala Presiden Soeharto

Berbicara mengenai diplomasi dan politik luar negeri, Presiden Soeharto memiliki sikap dan karakter yang jauh berbeda dengan Presiden Sukarno. Presiden Soeharto lebih menekankan pada good neighbourhood policy serta menghapuskan politik konfrontasi ala Presiden Sukarno. Hal tersebut dibuktikan dengan kembalinya Indonesia sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa sekaligus perbaikan hubungan dengan Malaysia, Belanda, maupun negara-negara blok barat. Salah satu negara blok barat adalah Republik Federal Jerman atau Jerman Barat. Hubungan harmonis Indonesia dengan Republik Federal Jerman terjalin pada masa Kanselir Helmut Kohl. Hal tersebut dibuktikan dengan kunjungan Helmut Kohl ke Indonesia sebayak empat kali, yakni tahun 1983, 1988, 1993, dan 1996. Sementara itu, untuk Presiden Soeharto sendiri telah melakukan kunjungan ke Jerman sebanyak dua kali, yakni tahun 1991 dan 1995.

Kunjungan demi kunjungan, baik yang dilakukan oleh Helmut Kohl maupun Presiden Soeharto, bukan tanpa tujuan. Kesepakatan dan kerjasama antar dua negara tercipta dari rangkaian kunjungan-kunjungan tersebut. Kesepakatan kerjasama antara Indonesia dan Jerman selanjutnya diperkuat dengan produk hukum yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto. Pada 1984, Presiden Soeharto mengeluarkan Keptusan Presiden Nomor 71 Tahun 1984 yang mengatur kerjasama teknik antara Indonesia dengan Republik Federal Jerman. Selanjutnya pada 1989, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 47 Tahun 1989 yang mengatur kerjasama kebudayaan antara Indonesia dengan Republik Federal Jerman.

Kunjungan Helmut Kohl ke Indonesia pada 1996 merupakan yang menyimpan kisah paling menarik. Pada kunjungan tersebut, Helmut Kohl diajak oleh Presiden Soeharto ke Pulau Bira yang berada di Kepulauan Seribu untuk memancing ikan bersama. Momen kedua tokoh yang tengah memancing ikan bersama menjadi pemberitaan media internasional. Presiden Soeharto menunjukkan bahwa diplomasi bisa dilaksanakan dengan aktivitas santai dan tidak harus kaku seperti di ruang rapat. Tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk memperkuat hubungan yang sudah baik, terutama di bidang ekonomi dan perdagangan.

 

Sumber:

Mahpudi, dkk. 2012. Pak Harto The Untold Stories. Jakarta: PT Gramedia

Sari, D.A dan Sage, L.A. 2006. Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto. Jakarta: Jakarta Citra

Parandaru, I. (2022, 26 April). “Politik Bebas Aktif: Warisan Politik Luar Negeri Orde Baru (Bagian Dua)”. Diakses pada tanggal 8 Juni 2026, dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/infografik/kronologi/politik-bebas-aktif-warisan-politik-luar-negeri-orde-baru-bagian-dua

Wahyono, E. (2021, 10 Juni). “Soeharto, Incognito, dan Mancing”. Diakses pada tanggal 8 Juni 2026, dari https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20210610/Soeharto,-Incognito,-dan-Mancing/

DW. (2017, 30 Juni). “Persahabatan Helmut Kohl dan Indonesia”. Diakses pada tanggal 8 Juni 2026, dari https://www.dw.com/id/persahabatan-helmut-kohl-dan-indonesia/a-39435279

United Press International. (1996, 26 Oktober). “German chancellor in Indonesia”. Diakses pada tanggal 8 Juni 2026, dari https://www.upi.com/Archives/1996/10/26/German-chancellor-in-Indonesia/8415846302400/

Keptusan Presiden Nomor 71 Tahun 1984

Keputusan Presiden Nomor 47 Tahun 1989

 


Komentar