Artikel

Industri Sepeda di Era Presiden Soeharto: Dari ‘Kuda’ Turangga Hingga Federal yang Fenomenal



Industri Sepeda di Era Presiden Soeharto: Dari ‘Kuda’ Turangga Hingga Federal yang Fenomenal

Informasi

Sepeda merupakan alat transportasi yang telah ada sejak lama dan terus berkembang menjadi gaya hidup. Berbagai jenis sepeda hadir untuk menjawab perkembangan zaman sekaligus kebutuhan masyarakat akan olahraga menggunakan sepeda. Beberapa jenis sepeda yang umum digunakan oleh masyarakat antara lain: sepeda balap (road bike) untuk kecepatan, sepeda gunung (MTB) untuk medan yang berat, sepeda lipat untuk komuter atau aktivitas sehari-hari, hingga sepeda listrik yang kekinian.

Penggunaan sepeda, baik sebagai alat transportasi ataupun gaya hidup, di Indonesia begitu masif pada saat era Presiden Soeharto. Hal tersebut tak terlepas dari dukungan kebijakan Presiden Soeharto untuk mendirikan industri sepeda nasional yang dapat dijangkau oleh kalangan menengah bawah. Dua brand sepeda yang populer pada masa pemerintahan Presiden Soeharto adalah Turangga dan Federal.

Sepeda Turangga, ‘Kuda’ dari Indonesia

Produksi sepeda Turangga dimulai dari peresmian pabrik sepeda milik Induk Koperasi Pegawai Negeri (IKPN) di Batu Ceper, Tangerang oleh Presiden Soeharto pada tanggal 12 Juli 1974. Dalam acara tersebut, Presiden Soeharto memberi nama “Turangga” pada pabrik sekaligus merek dagang sepeda produksinya. Menurut Presiden Soeharto Turangga atau kuda merupakan salah satu dari lima syarat seorang laki-laki yang menurut nenek moyang untuk mengukur tingkat kesejahteraan manusia. Keempat syarat lainnya adalah wisma (rumah), wanita (istri), kukilo (burung) sebagai lambang hiburan, dan curigo (keris). Kepala kuda selanjutnya dipilih sebagai lambang sepeda.

Produksi sepeda Turangga ditujukan untuk membantu pegawai negeri di daerah-daerah yang memiliki permasalahan ekonomi terutama meningkatnya ongkos kendaraan untuk mobilitas mereka. Dengan pendirian pabrik sepeda Turangga diharapkan mampu menekan harga sepeda, sehingga terjangkau bagi anggota koperasi pegawai negeri. Dalam perkembangannya, produksi sepeda Turangga mengalami permasalahan dan berakhir merugi hingga pabrik sepeda harus dijual ke perusahaan swasta.

Federal, Sepeda Fenomenal Menlintas Zaman

Produksi sepeda Federal dilakukan oleh Astra pada tahun 1986. Astra, kala itu, melihat peluang tren bersepeda di Eropa serta berupaya untuk mengekspor produk sepeda Federal. Dalam perkembangannya, produksi sepeda Federal mencapai 500.000 unit sepeda per bulannya. Hal tersebut tidak terlepas dari tren dan gaya hidup bersepeda dikalangan masyarakat. Tren bersepeda menggunakan Federal juga diikuti oleh Presiden Soeharto. Pada saat memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September 1988, Presiden Soeharto bersama Ibu Tien Soeharto bersepeda dari kediamannya di Jalan Cendana menuju Gondangdia, Jalan Medan Merdeka Barat, hingga berakhir di Lapangan Monas.

Pada tahun 1996 produksi sepeda federal dihentikan dan selanjutnya pada tahun 1997 pabrik sepeda federal ditutup. Pabrik sepeda Federal selanjutnya diminta oleh Federal Motor untuk diganti menjadi pabrik motor. Tutupnya pabrik sepeda Federal tidak terlepas dari isu politik dumping oleh Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). PT Federal Cycle Mustika (FCM) dianggap menjual sepeda di luar Indonesia lebih murah dibandingkan harga jual di Indonesia. Tahun 2004, MEE mencabut isu dumping sekaligus menyatakan Federal tidak melakukan isu politik dumping tersebut.

Sumber:

Team Dokumentasi Presiden RI. (2003). Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973 – 23 Maret 1978. Jakarta: PT Citra Kharisma Bunda.

Isnaeni, H. (2020, 14 Juni) “Soeharto, Astra, dan Sepeda Federal”. Diakses pada tanggal 26 Februari 2026, dari https://www.historia.id/article/soeharto-astra-dan-sepeda-federal-pdlp7.

Subyandono, E. (2022, 25 Juli). “Peresmian Pabrik Sepeda Turangga”. Diakses pada tanggal 26 Februari 2026, dari https://kompaspedia.kompas.id/baca/data/foto/peresmian-pabrik-sepeda-turangga.

 

Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo


Komentar