Artikel

Presiden dan Hobi Berkebun untuk Lingkungan



Presiden dan Hobi Berkebun untuk Lingkungan

Informasi

Penulis: Arie Januar dan Kurniawan Ivan Prasetyo

 

Aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus
– Presiden Sukarno –

 

Presiden Republik Indonesia memiliki berbagai hobi yang mencerminkan kecintaan terhadap alam. Salah satu hobi yang mungkin belum banyak orang mengetahui adalah berkebun. Berkebun bukan hanya menanam pohon, melainkan juga merawat dan menjaga ekosistem lingkungan. Presiden Republik Indonesia memiliki hobi ini, dan bahkan kebiasaannya melahirkan berbagai karya inovasi yang inspiratif dalam pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Beberapa Presiden Republik Indonesia memiliki hobi berkebun yang telah dilakukan sejak masa kecil. Presiden Sukarno merupakan sosok pecinta lingkungan yang cukup aktif menanam pohon di sela kunjungannya. Kebiasaan menanam pohon berawal dari pandangannya bahwa bumi adalah rumah bersama manusia yang ekosistemnya perlu dijaga dan dilestarikan.

Saat menjadi presiden, perhatiannya terhadap hutan tertuang dalam Kongres Boeroeh Kehoetanan di Malang tahun 1946. Dalam Harian Merdeka 1 Oktober 1946, yang dikutip dari Historia.id, Sukarno berkata “350 tahun kita tak bernegara. Kita ingin hidup bernegara. Kita berjuang menumpahkan darah untuk hidup. Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber, tidak ada air”.

Perhatian Sukarno sangat tinggi terhadap tanaman dan pepohonan yang ada disekitarnya. Menurut Bambang Widjanarko dalam Sewindu Dekat Bung Karno yang dikutip historia.id, Sukarno kerap marah jika ada tanaman yang rusak atau terlantar. Jika ada tanaman atau pohon ada yang rusak, Ia pasti akan memanggil tukang kebun untuk memperbaiki dan merawatnya. Kecintaan terhadap tanaman terus Ia lakukan hingga akhir hayatnya. Bahkan dalam wasiatnya, Ia ingin dimakamkan di tempat yang teduh, dekat dengan alam dan rakyat.

Sebagai seorang yang berlatar belakang dari desa, Presiden Soeharto juga memiliki kegemaran berkebun dan menanam di sawah. Saat menjabat sebagai presiden, cita-cita Presiden Soeharto adalah menjaga ketahanan pangan. Kebijakan ini diwujudkan  melalui program strategis “Revolusi Hijau”, swasembada pangan, dan pengembangan agrowisata Taman Buah Mekar Sari. Selain sektor pertanian, fokus Presiden Soeharto terkait lingkungan tercermin melalui Gerakan Satu Juta Pohon. Gerakan Satu Juta Pohon pertama kali dicanangkan pada tahun 1993 oleh Presiden Soeharto sebagai bentuk respons terhadap meningkatnya laju kerusakan hutan dan degradasi lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dengan cara sederhana, tanah air menjadi hijau dan ekosistem lingkungan terjaga dan terhindar dari kepunahan.

Presiden Megawati Soekarnoputri juga dikenal sangat gemar berkebun. Kecintaan terhadap tanaman tak terlepas dari kegemaran sang ayah, yang diturunkan ke beliau hingga saat ini. Bagi Presiden Megawati Soekarnoputri pelestarian alam dan ekosistemnya sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, setiap pembangunan yang dilakukan harus didasarkan pada analisis dampak terhadap lingkungan.

Presiden Megawati Soekarnoputri sangat aktif dalam konservasi tumbuhan, Ia bahkan mendirikan Yayasan Kebun Raya Bogor sebagai upaya pelestarian lingkungan. Peresmian Griya Anggrek Kebun Raya Bogor oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2002, menjadi bukti kepedulian Presiden Megawati dalam upaya konservasi alam. Upaya ini kemudian dilanjutkan dengan dikeluarkannya sejumlah peraturan hukum, peresmian sejumlah lembaga konservasi tumbuhan, kampanye lingkungan hidup, hingga pemikiran ekologi.

Presiden Abdurrahman Wahid merupakan salah satu presiden yang memiliki visi ekologi kuat. Visi ekologi Presiden Abdurrahman Wahid dilandasi perspektif nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, seperti ajaran hifdzul bi’ah (menjaga lingkungan) dan kaidah “menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan”.

Pandangan Presiden Abdurrahman Wahid berlandaskan pada keadilan sosial. Kerusakan alam seringkali merugikan masyarakat kecil. Untuk itu, Ia menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat dalam upaya pengelolaan lingkungan, sehingga semua orang dapat memiliki kesempatan untuk memanfaatkan alam tanpa harus merusaknya.

Langkah konkret untuk menggalakan kepedulian terhadap lingkungan juga dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2008 tentang Hari Menanam Pohon Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikenal aktif dalam isu lingkungan, baik saat menjabat Presiden ke-6 RI maupun setelahnya. Fokus beliau pada mitigasi perubahan iklim, moratorium hutan, dan penanaman pohon.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga kerap terlibat aktif dalam kegiatan penanaman pohon di sejumlah tempat. Hobi inipun kerap dilakukan bersama sang istri dalam berbagai kesempatan, baik di rumah maupun di lingkungan Istana Kepresidenan.

 

Referensi:

Adams, Cindy. 2011. Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno

Widjanarko, B. 2010. Sewindu Dekat Bung Karno. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Arief, Teuku Muhammad Valdy. 2017. Tak Cuma Politik, Megawati Juga Hobi Merawat Tanaman. Dalam https://kumparan.com/kumparannews/tak-cuma-politik-megawati-juga-hobi-merawat-tanaman/full. Diakses 2 April 2026

Kusumo, Rizky. 2022. Gerakan Satu Juta Pohon dan Cara Pandang Soeharto Melihat Lingkungan. Dalam https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/01/09/gerakan-satu-juta-pohon-dan-cara-pandang-soeharto-melihat-lingkungan. Diakses 2 April 2026

Mukhti, M.F., 2015. Kisah Sukarno dan Pohon-pohonnya. Dalam https://www.historia.id/article/kisah-sukarno-dan-pohon-pohonnya-vybva. Diakses 1 April 2026

Prasetyo, Kurniawan I. 2022. Presiden Soeharto dan Swasembada Pangan. Dalam https://museumkepresidenan.id/artikel/swasembada-pangan/#:~:text=Selain%20menggerakkan%20intensifikasi%20dan%20ekstensifikasi,swasembada%20pangan%20pada%20tahun%201984. Diakses 2 April 2026

Rohiman, Ahmad. 2025. Taubat Ekologis: Lingkungan sebagai Amanah Sosial. Dalam https://gusdurian.net/2025/01/31/taubat-ekologis-lingkungan-sebagai-amanah-sosial/. Diakses 2 April 2026


Komentar