Mengubur Mitos dan Takhayul yang Melekat pada Presiden Sukarno
Informasi
Penulis: Kurniawan Ivan Prasetyo
Diskursus seputar mitos dan takhayul yang melekat pada Presiden Sukarno selalu menjadi perbincangan menarik bagi sebagian masyarakat Indonesia hingga saat ini. Beberapa percaya bahwa beliau memiliki kesaktian yang melekat kuat dalam dirinya, sebagian menyanggah dengan tetap mengedepankan nalar dan pikiran. Presiden Sukarno sendiri kerap menyanggah anggapan masyarakat yang berkembang saat itu dan menolak segala bentuk praktik kepercayaan takhayul. Penolakan dan kritiknya terhadap budaya takhayul ia sampaikan dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Saat pengasingan di Pulau Ende, Flores, beliau kerap memikirkan keberadaan budaya takhayul. Baginya kepercayaan takhayul yang tumbuh subur dalam keyakinan masyarakat berbahaya karena bersifat menyesatkan dan melumpuhkan nalar manusia.
Kepercayaan bahwa Presiden Sukarno memiliki kekuatan gaib telah diyakini oleh kakek dan neneknya sejak ia masih kecil. Kakek dan nenek Presiden Sukarno pernah memanggilnya untuk membantu mengobati orang desa yang sedang sakit dengan memintanya untuk menjilat bagian tubuh orang yang sakit itu. Sang nenek juga percaya bahwa cucunya tersebut memiliki kemampuan untuk melihat sesuatu secara gaib. Cerita seputar kepercayaan masyarakat bahwa Presiden Sukarno memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang sakit juga ia alami saat menjabat sebagai presiden. Dalam buku yang sama, dikisahkan pernah ada seorang petani kelapa yang anaknya sakit keras dan bermimpi untuk menghadap Presiden Sukarno dan meminta air untuk kesembuhan anaknya. Petani tersebut yakin air apapun yang diberikan olehnya mengandung zat-zat yang dapat menyembuhkan. Akhirnya beliau memberikan air dari leding biasa dari dapur.
Cerita “keistimewaan” Presiden Sukarno juga hadir ketika ia sedang mengunjungi sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Seorang perempuan dari desa itu mendatangi pelayan Presiden Sukarno dan meminta agar piringnya jangan dibereskan terlebih dahulu karena ia ingin memakan sisa makanan Presiden Sukarno. Perempuan desa itu ternyata sedang hamil dan memiliki keinginan agar memiliki anak laki-laki yang mirip dengan Presiden Sukarno. Masyarakat Bali juga memiliki kepercayaan bahwa Presiden Sukarno merupakan penjelmaan dari Dewa Wisnu (dalam agama Hindu dianggap sebagai Dewa Hujan). Hal tersebut dikarenakan ketika kunjungannya di Denpasar hujan selalu mengguyur daerah tersebut meski sedang musim kemarau.
Masyarakat juga meyakini kesaktian dan kekuatan Presiden Sukarno terletak pada tongkat komando yang kerap ia bawa. Dalam buku Roso Daras yang berjudul “Total Bung Karno 2”, mereka yang memiliki nalar mistis beranggapan bahwa tongkat komando tersebut bukan sembarang tongkat, melainkan tongkat sakti yang berisi keris pusaka ampuh. Bahkan kayu yang digunakan pun bukan sembarang kayu, melainkan kayu pucang kalak yang berada di tempat keramat daerah pegunungan Kalak.
Keyakinan akan takhayul seputar kesaktian Presiden Sukarno semakin bertambah kuat ketika ia berhasil selamat dari 7 upaya pembunuhan. Beberapa upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno antara lain: Tragedi Granat Cikini (1957), Penembakan Istana Presiden (1960), Peristiwa Pencegatan Rajamandala (1960), Tragedi Granat Makassar (1962), Tragedi Penembakan Idul Adha (1962), Insiden Granat Cimanggis (1964), hingga Peristiwa Penembakan Mortir Kahar Muzakar. Dalam buku Bambang Widjanarko yang berjudul “Sewindu Dekat Bung Karno”, Presiden Sukarno menyampaikan bahwa hidup mati seseorang ada di tangan Tuhan, hanya Tuhan yang menetapkan kapan dan bagaimana seseorang meninggal. Baginya, percobaan pembunuhan yang dilakukan terhadap dirinya merupakan risiko yang harus berani ia ambil dan tanggung sebagai seorang pemimpin.
Presiden Sukarno juga menentang pengkultusan dirinya oleh masyarakat dalam sebuah pidato yang berjudul “Tahun Vivere Pericoloso”. Pidato tersebut ia sampaikan saat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1964. “Dan jangan dikira bahwa manusia Sukarno ini manusia yang “weruh sadurunging winarah”. Jangan dikira Sukarno memiliki ilmu gaib yang begini-begitu! Tidak! Manakala aku meramalkan hal ini atau hal itu, ramalanku itu aku dasarkan pada pemahamanku atas hukum-hukum obyektif sejarah masyarakat,” kata Presiden Sukarno. Bambang Widjanarko, mantan ajudan Presiden Sukarno, juga menyebut bahwa Presiden Sukarno tidak pernah memuja suatu benda atau memiliki suatu benda yang ia anggap keramat. Bila Presiden Sukarno menyenangi suatu benda kuno itu karena ia melihatnya dari sudut keindahan seni atau nilai historisnya.
Pada akhirnya keiistimewaan Presiden Sukarno tidak dapat dilihat melalui paradigma takhayul yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Keistimewaan Presiden Sukarno terletak pada intelektualitas serta kedalaman berpikir yang ia peroleh dari proses membaca buku (literasi) dan melihat realita sosial yang ada. Keistimewaan lain yang dimiliki oleh Presiden Sukarno kemampuan orasi yang mampu membangkitkan semangat massa. Selain itu, keistimewaan Presiden Sukarno adalah diplomasi luar negeri untuk memperkuat peran Indonesia di kancah global, mulai dari penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika hingga pembentukan Gerakan Non Blok.
SUMBER:
Adams, C. 2018. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Yayasan Bung Karno
Daras, R. 2014. Total Bung Karno 2 Serpihan Sejarah yang Tercecer. Depok: Penrbit Imania
Prasetyo, S.A. 2017. Bung Karno dan Revolusi Mental. Tangerang Selatan: Penerbit Imania
Widjanarko, B. 1988. Sewindu Dekat Bung Karno. Jakarta: PT Gramedia
Pidato HUT Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1964 “Tahun Vivere Pericoloso”