Di Balik Gaya Busana Sukarno: Antara Kharisma, Wibawa, dan Kepemimpinan
Informasi
Penulis: Arie Januar
Pada era pergerakan nasional hingga pasca kemerdekaan Republik Indonesia, Sukarno dikenal sangat memperhatikan penampilan. Setelan jas, celana, dasi, hingga peci kerap digunakan dalam berbagai aktivitas keseharian. Dari beberapa tokoh nasional, Sukarno dikenal sangat apik dalam menentukan pilihan busana, mulai dari rupa pakaian hingga warna, sehingga terlihat rapi dan elegan.
Gaya busana yang melekat menjadi simbol kekuatan pada dirinya. Bahkan gaya busananya menjadi trend mode pria di Indonesia pada masa pergerakan nasional. Bagi Sukarno busana bukan hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, melainkan juga dimensi simbolik yang berkaitan dengan kharisma dan kewibawaan seorang pemimpin.
Sukarno sangat meyakini bahwa gaya berbusana menunjukan derajat seseorang. Oleh karena itu, penampilan seorang pemimpin harus mampu memperlihatkan martabat dan kepercayaan diri. Selain itu, dengan gaya busana ini Sukarno juga ingin menunjukkan bahwa Indonesia sejajar dengan negara-negara lain di dunia.
Gaya busana Sukarno menjadi salah satu media komunikasi non verbal yang berfungsi membangun citra kharismatik dan nasionalisme. Droogsma dalam Adler (2020), mendeteksi komunikasi non verbal menjadi beberapa indikator. Salah satunya adalah pakaian atau busana. Selain berfungsi melindungi tubuh, busana juga digunakan untuk memberikan makna atau pesan bagi yang melihatnya. Gaya komunikasi ini turut mempengaruhi mentalitas Sukarno dalam menentukan sikap dan tindakannya, terutama pada masa pergerakan nasional hingga saat menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Setelan jas, dasi, dan celana merupakan penampilan standar dunia internasional. Sementara peci, dipopulerkan Sukarno sebagai identitas nasionalisme Indonesia. Bagi Sukarno, penampilannya ini lebih kepada insting, selera, dan pemahamannya tentang keindahan. Dalam konteks gaya busana, Sukarno mengetahui apa yang dipakai dan dipilih, harus memiliki dampak di hadapan rakyat.
Dalam otobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, yang ditulis oleh Cindy Adams, Sukarno mengatakan bahwa “seragam dan peci hitam adalah simbol identitasnya”. Dengan adanya seragam dapat mengangkat kepercayaan diri, bukan hanya untuk Sukarno melainkan juga untuk rakyatnya.
Dengan demikian gaya busana tidak hanya mencerminkan selera personal Sukarno, melainkan juga menjadi strategi simbolik untuk membangun citra kepemimpinan, nasionalisme, dan kepercayaan diri bangsa Indonesia di mata dunia.
Sumber:
Adler, R. B., dkk. (2010). Understanding Human Communication (Agus Darma (Trans) (ed.)). Jakarta: Erlangga.
Adams, C. (2014). Bung Karno penyambung lidah rakyat Indonesia (Edisi revisi). Jakarta: Yayasan Bung Karno bekerja sama dengan Media Pressindo.
Lilis, 2021. Fashion Bung Karno, Sejajarkan Indonesia di Dunia Internasional. Dalam https://sinpo.id/detail/17332/fashion-bung-karno-sejajarkan-indonesia-di-dunia-internasional, diakses 26 Maret 2026.
Martin Sitompul. 2021. Ketika Para Perwira Mengkritik Penampilan Sukarno. Dalam https://www.historia.id/article/ketika-para-perwira-mengkritik-penampilan-sukarno-pyjar, diakses 26 Maret 2026
Monika Novena, dkk. 2021. Di Balik Penampilan Necis Soekarno: Paling Suka Baju Warna Cokelat, Abu-abu dan Putih. https://www.kompas.com/sains/read/2021/08/17/160300223/di-balik-penampilan-necis-soekarno–paling-suka-baju-warna-cokelat-abu-abu?page=all.
Berdikari Online. Sukarno dan pakaian “uniform”. (n.d.). https://www.berdikarionline.com/soekarno-dan-pakaian-%E2%80%9Cuniform%E2%80%9D/, diakses tanggal 13 Maret 2026.
Tim Litbang MPI. 2021. Deretan filosofi barang yang dikenakan Soekarno. Dalam https://news.okezone.com/read/2021/08/17/337/2456512/deretan-filosofi-barang-yang-dikenakan-soekarno?page=2, diakses tanggal 13 Maret 2026
Putu Hendra Mas Martayana. 2019. Necisme Bung Karno, Gerakan Busana Melawan Kolonialisme Barat. Dalam https://tatkala.co/2019/08/18/necisme-bung-karno-gerakan-busana-melawan-kolonialisme-barat/. Diakses 26 Maret 2026