Berita


Reset
Info Kegiatan: Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Melakukan Museum Keliling di SMPN 1 Cisarua Berita
Info Kegiatan: Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Melakukan Museum Keliling di SMPN 1 Cisarua

Bogor (31/05), Museum Kepresidenan RI Balai Kirti melaksanakan Museum Keliling di SMPN 1 Cisarua, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini dilaksanakan atas Kerjasama Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor. Program Museum Keliling dihadiri oleh beberapa sekolah yang berada di sekitar SMPN 1 Cisarua, seperti SMP Al Barokah, SMP Islam Darul Wasilah, SMP YPC Cisarua, dan beberapa sekolah lainnya.

Kegiatan Museum Keliling dibuka dengan penampilan Pencak Silat oleh M. Zikriansyah. Kemudian dilanjutkan sambutan oleh Ibu Tati Widiya S.Pd., selaku Kepala Sekolah SMPN 1 Cisarua dan Ibu Dra. Dewi Murwaningrum, M.Hum. selaku Kepala Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Pembukaan Museum Keliling dibuka oleh Bapak Ucu Sunarya, S.Pd., M.M. selaku Kabid Humas Pendidikan Kabupaten Bogor.

Kegiatan Museum Keliling terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama pemutaran film tentang Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, dan sesi kedua motivasi kebangsaan oleh Kang Iman Kastubi. Pada sesi motivasi kebangsaan, Kang Iman menyampaikan beberapa pesan agar saat ini anak-anak sudah harus bisa menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan orang lain. Memimpin diri sendiri merupakan seni kepemimpinan yang paling dasar yang harus dikuasai oleh semua orang, baru setelah itu memimpin orang lain. Pada kesempatan ini juga Kang Iman menceritakan profil dari masing-masing Presiden kepada anak-anak agar dapat menjadi inspirasi dan motivasi mereka untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Selain itu dengan mengenal para pemimpin bangsa diharapkan dapat meningkatkan sikap patriotisme dan juga pemahaman terkait dengan wawasan kebangsaan.

Semoga melalui kegiatan Museum Keliling ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan seluruh peserta mengenai sejarah kepresidenan serta meningkatkan jumlah masyarakat yang mengapresiasi Museum.

Selengkapnya
Mengenalkan Sejarah Presiden RI: Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Menggelar Museum Keliling di SDN Cipayung 01 Kec. Cibinong, Kabupaten Bogor Berita
Mengenalkan Sejarah Presiden RI: Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Menggelar Museum Keliling di SDN Cipayung 01 Kec. Cibinong, Kabupaten Bogor

Senin (30/05), Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menyelenggarakan program Museum Keliling di SDN Cipayung 01, Kec. Cibinong, Kab. Bogor. Program Museum Keliling sendiri merupakan kegiatan sosialisasi museum kepada masyarakat yang bertujuan untuk mengenalkan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, sejarah kepresidenan, hingga prestasi Presiden.

Kegiatan museum keliling di SD Negeri 1 Cibinong berlangsung selama satu hari. Kegiatan dibuka oleh Bapak Endin Saepudin, S.Pd., M.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Negeri 1 Cibinong dan Ibu Dra. Enik Suryanti Saptorini selaku Pamong Budaya Ahli Muda Musem Kepresidenan RI Balai Kirti.

Kegiatan ini juga diikuti oleh SDN Cikaret 02, SDN Kramat, SDN Curug, SDN Curug Raya, SDN Pakansari 02, SDIT Al Hidayah, SDIT Al Fatih, MI Muhammadiyah, SDN Salman Alfarisi, dan Sekolah Alam. Selain menayangkan video profil Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, kegiatan ini juga menghadirkan Kang Didin dari Pendekar Dongeng Indonesia yang membawakan cerita tentang perjuangan dan prestasi Presiden. Para peserta sangat antusias selama kegiatan berlangsung, serta aktif dalam mengikuti kuis yang dipandu oleh para edukator museum.

Selengkapnya
Siaran Pers Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 Berita
Siaran Pers Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Nomor: 273/sipers/A6/VI/2022

 

Simpan Kisah Kejayaan Jalur Rempah Nusantara, Surabaya Jadi Titik Awal Muhibah Budaya

 

Surabaya, 1 Juni 2022 – Surabaya menjadi titik napak tilas pertama dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah Tahun 2022. Direktur Jenderal Kebudayaan (Dirjenbud) Hilmar Farid mengatakan bahwa selain sebagai basis dari Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewaruci, Surabaya juga merupakan titik lalu lintas perdagangan komoditas rempah di masa lampau.

Jalur Rempah bukan hanya kenangan terhadap masa lalu, tetapi juga memiliki arti penting di masa sekarang. “Muhibah Budaya Jalur Rempah adalah wujud nyata untuk mengaktualisasi arti penting dari Jalur Rempah bagi kita sekarang ini,” disampaikan Dirjen Kebudayaan di Surabaya, pada Rabu (1/6).

Masyarakat Indonesia, lanjut Hilmar, sudah ribuan tahun mengarungi lautan di nusantara ini, menghubungkan titik-titik di seluruh Nusantara dan menjadikan sebuah wilayah. “Kita mengenal jalur laut yang menghubungkan titik yang satu dengan yang lain sebagai Jalur Rempah, karena rempah memainkan peran begitu penting di masa lalu dalam kehidupan kita,” kata Dirjen Kebudayaan.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Pemerintah Daerah serta berbagai komunitas budaya menyelenggarakan Muhibah Budaya Jalur Rempah Tahun 2022. Rencananya Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, akan melepas para Laskar Rempah beserta awak KRI Dewaruci mengarungi Jalur Rempah Nusantara pada Rabu sore ini, 1 Juni 2022 di Dermaga Madura Tengah Koarmada II Surabaya, Jawa Timur.

Para Laskar Rempah akan berlayar di atas KRI Dewaruci menelusuri titik-titik jalur rempah Nusantara. Dimulai dari Surabaya, kemudian Makassar, berlanjut ke Baubau dan Buton, lalu ke Ternate dan Tidore, selanjutnya ke Banda Neira, dan ke Kupang. Setelah itu, KRI Dewaruci akan kembali ke Surabaya pada 2 Juli 2022 mendatang.

Pesona Kejayaan Jalur Rempah di Surabaya

Sebagai bagian dari wilayah Kerajaan Majapahit, wilayah Surabaya dahulu menjadi pelabuhan pendamping dan pendukung kegiatan ekonomi pelabuhan era klasik, yakni Tuban dan Gresik. Komoditas rempah yang berasal dari Maluku dan Banda diangkut dengan perahu kecil menuju Bubat melalui aliran Sungai Bengawan Solo dan Brantas. Pasar Bubat yang letaknya tidak jauh dari pusat kekuasaan Trowulan, Mojokerto, merupakan wilayah perniagaan utama Kerajaan Majapahit, di mana rempah menjadi salah satu primadona yang diperdagangkan.

Serangkaian kegiatan napak tilas jejak Jalur Rempah dilakukan di Surabaya, yakni di kawasan Kota Tua dan Menara Syahbandar, serta jejak peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar di Nusantara. Sebelum berlayar Laskar Rempah berkesempatan menampilkan berbagai pertunjukan budaya berupa teater, musikalisasi puisi, dan senam rempah di Balai Pemuda Surabaya yang bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Surabaya ke-729 pada 31 Mei 2022.

Meskipun saat ini sudah tidak menjadi pelabuhan utama, Pelabuhan Rakyat Kalimas yang dibangun pada abad ke-14 masih dinilai penting sebagai pelabuhan tradisional yang menampung perahu pengangkut dari dan menuju Jawa. Berdampingan dengan Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Rakyat Kalimas hari ini masih digunakan para pelayar kecil dan menjadi pelabuhan alternatif bagi nelayan kapal kecil.

Menara Syahbandar saksi bahwa pelabuhan tidak hanya terkait bongkar muat kapal akan komoditas yang akan diperjualbelikan, tetapi juga berperan sebagai ruang pertemuan berbagai budaya yang dibawa oleh para pedagang. Sementara itu, peran seorang syahbandar menjadi penting dalam mengawasi perdagangan dan kualitas barang secara umum, menentukan pajak, serta menentukan mata uang atau alat tukar yang dapat digunakan dalam perdagangan di wilayah tersebut.

Pasar Pabean yang berlokasi dekat Pelabuhan Kalimas menjadi pusat perkulakan rempah-rempah dan bumbu dapur. Dari Pasar Pabean, rempah masuk ke pedalaman Jawa bagian timur dan menyebrang ke Madura serta ikut mewarnai karakter kebudayaan Jawa Timur yang sangat beragam. Sejak dibangun pada tahun 1849, hingga hari ini Pasar Pabean masih eksis menjalankan perannya sebagai pasar rempah-rempah.

Jejak Jalur Rempah lainnya di Surabaya masih terlihat jelas di area Jalan Panggung, Kapasan, dan Kembang Jepun yang di masa lampau merupakan sentra dagang bongkar muat dan wilayah peradaban pertemuan berbagai bangsa, seperti Arab, India, dan Tiongkok.

Dirjen Kebudayaan menyampaikan bahwa Muhibah Budaya Jalur Rempah tidak hanya berbicara mengenai kejayaan masa lampau saja, tetapi juga dapat digunakan untuk memantik diskusi dan memunculkan ide-ide besar untuk masa depan. Kegiatan ini diharapkan dapat mempertemukan kembali hubungan dan sejarah antarbudaya di masa lalu dengan budaya masa kini.

“Jalur Rempah bukan hanya perdagangan rempah semata, tetapi juga terjadi pertukaran budaya. Kita berharap para Laskar Rempah dapat menghidupkan kembali pertukaran dan pergaulan budaya seperti yang terjadi ribuan tahun lalu melalui Jalur Rempah,” tegas Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid.

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman: kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/Kemdikbud_RI
Instagram: instagram.com/kemdikbud.ri
Facebook: facebook.com/kemdikbud.ri
Youtube: KEMENDIKBUD RI
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemdikbud.go.id

Selengkapnya
Kunjungan Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta Pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 Ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Berita
Kunjungan Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta Pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 Ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Foto di atas adalah saat Penyambutan Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 di Galeri Kebangsaan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti.

Bogor (24/05), Pada tanggal 23 Februari 2022 Museum Kepresidenan RI Balai Kirti mendapat kunjungan istimewa dari Rombongan Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020. Pada kunjungan kali ini hadir pula Bapak Wardiman Djojonegoro selaku Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia, sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998.

Foto Bapak Wardiman selaku Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia sedang mendapat penjelasan dari Ibu Neneng Kartiwi tentang koleksi museum di Galeri Kebangsaan.

Kedatangan para Finalis Putri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 disambut langsung oleh Ibu Neneng Kartiwi selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha didampingi para staf Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Di dalam museum Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 mendapat penjelasan tentang awal pendirian museum, koleksi museum, hingga rencana pengembangan museum ke depan.

Foto bersama Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 di depan Patung Enam Presiden.

Semoga dengan kunjungan ini, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dapat memberikan manfaat dan semakin menginspirasi masyarakat untuk berkunjung ke museum.

Selengkapnya
Serah Terima Hibah Koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto Berita
Serah Terima Hibah Koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto

Foto di atas saat Penyerahan Koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto dari Museum Purna Bhakti Pertiwi kepada Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Bogor (14/01), Pada tanggal 13 Januari 2022, Museum Purna Bhakti Pertiwi menghibahkan koleksi milik Ibu Tien Soeharto kepada Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Koleksi tersebut diserahkan secara langsung oleh Wakil Direktur Museum Purna Bhakti Pertiwi, Ir. Indrawati S. Harijadi kepada Drs. Fitra Arda, M.Hum. selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, didampingi oleh Kepala Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti Dra. Dewi Murwaningrum, M.Hum. dan Kurator Museum Purna Bhakti Pertiwi, Gunawan Wahyu Widodo, M.Hum., di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta.

Foto proses Penandatanganan Berita Acara Penyerahan Koleksi Museum Puna Bhakti Pertiwi kepada Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Koleksi-koleksi yang dihibahkan antara lain Kebaya Motif Kembang, Kain Panjang, Selendang, Busana Batik Berwarna Hijau, Selop serta Sepatu Berwarna Hitam. Semasa hidup, Ibu Tien Soeharto gemar mengenakan kain batik dan kebaya lengkap dengan selendang berwarna senada. Koleksi-koleksi ini dikenakan oleh Ibu Tien Soeharto pada saat menjalankan tugasnya sebagai Ibu Negara.

Foto koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto yang dihibahkan untuk Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Penyerahan koleksi milik Ibu Negara ini sesuai dengan program kerja Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti terkait dengan pengelolaan koleksi. Salah satunya adalah kegiatan pengkajian dan pengumpulan koleksi terkait dengan sosok Ibu Negara. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi nilai dan informasi koleksi yang akan dipamerkan dan dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai bagian dari perjalanan hidup para Ibu Negara Republik Indonesia.

Foto bersama antara Museum Purna Bhakti Pertiwi dengan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Pengumpulan koleksi merupakan salah satu upaya yang dilakukan Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti untuk pengembangan museum ke depan. Tahapan selanjutnya adalah kajian yang hasilnya akan menjadi rekomendasi dalam menarasikan koleksi ke dalam tata pamer museum. Koleksi-koleksi ini tentunya juga akan menambah keragaman koleksi dan informasi yang dimiliki oleh Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, sehingga pengunjung bisa dapat menghayati, mengapresiasi, dan meneladani jejak langkah serta prestasi yang telah dicapai oleh masing-masing tokoh bangsa tersebut.

Selengkapnya
Kajian DED Tata Pamer Presiden Ke-7 Ir. H. Joko Widodo Berita
Kajian DED Tata Pamer Presiden Ke-7 Ir. H. Joko Widodo

Bogor (10/01), Pada tahun anggaran 2021, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti telah menyelesaikan kegiatan Kajian Detail Engineering Desain (DED) Tata Pamer Presiden ke-7 Ir. H. Joko Widodo. Kegiatan ini dilakukan sebagai rangkaian pengembangan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 9 Desember 2021 dan dibuka secara langsung oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Bapak Hilmar Farid, Ph.D. dan dihadiri oleh beberapa narasumber seperti Erwin Wicaksono (Kepala Istana Kepresidenan Bogor), Sri Hartini (plt. Kepala Museum Nasional), Hernowo Muliawan, Yusuf BA (Sejarahwan), Didik Pradjoko (Sejarahwan), Timmy Setiawan (Arsitek), Yuke Ardhiati (Arsitek), Harry Trysatya Wahyu (Kepala Museum Perumusan Naskah Proklamasi), dan perwakilan UPT Museum di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Kajian DED Tata Pamer Presiden ke 7 sudah memasuki tahap akhir, dan akan dilanjutkan Kajian koleksi pada tahun 2022. Tata pamer untuk konten apa yang akan dipamerakan, sedang dikonsolidasikan dengan Kantor Staf Presiden, Sekretariat Presiden, Sekretariat Negara, Asisten Pribadi Presiden, Pihak Keluarga, dan orang terdekat Presiden.

Terima kasih kami sampaikan atas partisipasi, serta masukan dalam kajian ini. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kemajuan permuseuman, khususnya Museum Kepresidenan RI Balai Kirti.

Selengkapnya
Kado Awal Tahun: Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti Mendapat Hibah Koleksi dari Wakil Presiden Ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla Berita
Kado Awal Tahun: Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti Mendapat Hibah Koleksi dari Wakil Presiden Ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla

Bogor (04/01), Pada senin, 3 Januari 2022, Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti kembali menerima hibah koleksi dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla. Koleksi tersebut diserahkan langsung oleh Jusuf Kalla didampingi oleh Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla kepada Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, Ph.D. didampingi Kepala Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, Dra. Dewi Murwaningrum M.Hum. di kediaman pribadi beliau di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Jusuf Kalla menghibahkan koleksi semasa menjadi Wakil Presiden, dan koleksi-koleksi tersebut nantinya akan dirawat, dipamerkan, dan dipublikasikan kepada masyarakat di museum.

Koleksi yang dihibahkan oleh Jusuf Kalla selain berkaitan dengan pribadi (keluarga) juga koleksi yang mewakili prestasi dan kegiatan beliau baik di bidang sosial maupun pemerintahan. Beberapa koleksi yang dihibahkan berupa satu stel pakaian kerja, peralatan pendukung kerja, sepatu kerja, kemeja PMI, serta foto-foto kegiatan. Koleksi lainnya yang dihibahkan adalah milik Ibu Mufidah Jusuf Kalla, yaitu berupa satu stel kebaya, tas, dan selop. Pada kesempatan ini juga Jusuf kalla maupun Mufidah Jusuf Kalla menghibahkan buku-buku untuk menjadi koleksi di Perpustakaan Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti.

Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyambut baik penyerahan koleksi yang dimiliki oleh Jusuf Kalla kepada Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Menurutnya “Koleksi dan museum adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, dalam PP no 66 tahun 2015 tentang museum disebutkan bahwa museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. Hibah koleksi dari Pak JK ini akan memperkaya khazanah koleksi Wakil Presiden di Museum Kepresidenan. Koleksi ini akan menambah sumber informasi khususnya yang berkaitan prestasi para wakil presiden dalam menjalankan masa tugasnya mendampingi Presiden. Salah satu fungsi museum adalah memberikan edukasi kepada masyarakat, melalui koleksi ini Museum Kepresidenan dapat menginformasikan sejarah prestasi para wakil presiden dalam masa kepemimpinannya, sehingga diharapkan dapat memberikan wawasan kepemimpinan bagi generasi bangsa” tuturnya.

Penyerahan koleksi milik Wakil Presiden ini sesuai dengan program kerja Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti terkait dengan pengelolaan koleksi. Salah satunya adalah kegiatan pengkajian dan pengumpulan koleksi terkait dengan tokoh Wakil Presiden Republik Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi nilai dan informasi koleksi yang akan dipamerkan dan dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai bagian dari perjalanan hidup para Wakil Presiden Republik Indonesia.

Hibah koleksi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk pengembangan Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Tahapan selanjutnya dari kegiatan ini adalah kegiatan kajian yang hasilnya akan menjadi rekomendasi dalam menarasikan koleksi tersebut ke dalam tata pamer di Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Koleksi-koleksi tersebut tentunya akan menambah keragaman koleksi dan informasi yang dimiliki oleh Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, sehingga pengunjung bisa menghayati, mengapresiasi, dan meneladani jejak langkah serta prestasi yang telah dicapai oleh masing-masing Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia selama masa baktinya.

Selengkapnya
Talk Show Humanis B.J. Habibie : Cinta Tanpa Batas Berita
Talk Show Humanis B.J. Habibie : Cinta Tanpa Batas

Museum merupakan sarana akses informasi dan pengetahuan mengenai hal-hal umum yang terkait dengan nilai-nilai sejarah, budaya, dan memori kolektif bangsa. Museum harus mengedukasi masyarakat melalui informasi yang menarik serta inspiratif. Untuk itu pada akhir tahun 2019, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menyelenggarakan kegiatan bincang-bincang di Museum. Konsep ini dipilih sebagai salah satu upaya mendekatkan museum kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar, civitas akademik, dan umumnya kaum milenial sebagai generasi muda strategis yang akan berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa kini maupun masa-masa mendatang. Kegiatan ini dapat terlaksana atas dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Pemerintah Kota Bogor, Yayasan Habibie dan Ainun, serta keluarga Bapak BJ Habibie.

Tema yang dibawa dalam bincang-bincang museum kali ini adalah “Cinta Tanpa Batas B.J. Habibie”. Tema ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk talkshow dengan maksud untuk mengenang Presiden Republik Indonesia yang ketiga Bacharudin Jusuf Habibie (alm). Sebagai individu maupun sebagai tokoh publik, Habibie banyak sekali memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Beliau tidak pernah berhenti berpikir dan berbuat untuk menghasilkan karya bagi kemajuan bangsa. Tidak hanya meletakkan dasar tradisi keilmuan dan pengembangan teknologi yang kokoh, Habibie juga mengajarkan banyak tentang adab berpolitik, tata cara pemerintahan yang efektif, beragama dengan produktif, berkeluarga yang harmonis, dan banyak hal lainnya. Cintanya Habibie untuk Indonesia yang tanpa batas dapat terlihat dari keinginan kuat Habibie adalah bagaimana melahirkan putra-putri bangsa menjadi manusia yang pintar, setara serta bangsa yang unggul di dunia. Habibie sadar, bahwa dengan menyiapkan bibit-bibit unggul untuk generasi penerus bangsa, merupakan salah satu cara untuk menjadi sebuah bangsa yang maju.

Untuk mengenal lebih dalam tentang B.J. Habibie, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti telah melaksanakan Talkshow dengan tema Cinta Tanpa Batas B.J. Habibie yang dibuka langsung oleh Plt. Kepala Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Judi Wahjudin pada tanggal 5 Desember 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada Bacharuddin Jusuf Habibie, karena telah memberikan pemikiran dan karyanya dalam membangun bangsa Indonesia. Acara ini dihadiri oleh pembicara utama Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), dan narasumber Ilham Akbar Hibibie, Manoj Punjabi, dan Reza Rahadian, dengan moderator Rosiana Silalahi dan Insana Abdul Adjid Habibie.

Selengkapnya
Bincang-Bincang Kuliner Kegemaran Presiden Ke-1 RI Sukarno Berita
Bincang-Bincang Kuliner Kegemaran Presiden Ke-1 RI Sukarno

Berbicara mengenai Presiden akan selalu menjadi hal yang menarik. Selain prestasi, hal lain yang mungkin tidak diketahui masyarakat ialah mengenai makanan favorit sang Presiden. Tema inilah yang diangkat oleh Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dalam pameran “Kuliner Kegemaran Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno”.

Masakan yang merupakan bagian dari karya manusia sudah tentu tercipta dari kearifan lokal masyarakat Indonesia. Ramuan yang terkandung dari setiap masakan tersedia di alam Indonesia. Bagaimana para pendahulu telah melakukan “riset” terlebih dahulu untuk menghasilkan cita rasa masakan yang lezat.

Karya masakan ini menjadi keunggulan setiap suku bangsa yang ada di Indonesia. Dahulu para raja pun memiliki cita rasa masakan yang tiada tara. Kita pun mengenal beberapa masakan yang hanya disajikan untuk sang raja karena memiliki kekhasan tersendiri yang diracik oleh juru masaknya.

Sukarno sebagai “raja” (baca: Presiden) Indonesia pun tak kalah seleranya terhadap masakan. Lidah dan cita rasa Sukarno terhadap karya budaya berupa masakan dan kuliner Nusantara tersaji dalam pameran ini.

Dengan mengusung tema kuliner kesukaan Presiden ini, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha mengajak masyarakat untuk kembali mengenali jati diri dan khazanah budaya bangsa sebagai suatu aset. Makanan lokal sebagai akar dari ketahanan budaya. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat semakin menghargai masakan lokal sebagaimana halnya Presiden Sukarno yang selalu menjunjung tinggi masakan khas Nusantara.

Melalui acara bincang-bincang kuliner kegemaran Presiden Sukarno ini pula Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha untuk menampilkan Presiden dari sisi lain. Bincang-bincang ini akan menghadirkan beberapa narasumber antara lain: Puti Guntur Sukarno, S.IP (Anggota DPR RI/cucu Presiden Sukarno), Endang Sumitra, S.H (Purna Istana Kepresidenan Bogor), dan Fadly Rahman, M.A (Sejarawan Makanan, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran).

Acara ini akan dihadiri oleh :

  • Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek
  • Keluarga Museum se-Indonesia
  • Komunitas Handai Tuli
  • Kelompok Guru Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata dengan Keahlian Tata Boga

Kegiatan bincang-bincang ini akan dibuka dengan sambutan dari Kepala Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti yaitu Ibu Dewi Murwaningrum.

Kemudian sambutan sekaligus pembukaan oleh Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat adat yaitu Bapak Sjamsul Hadi. Diselenggarakan secara daring melalui zoom meeting dan live streaming Youtube Museum Kepresidenan RI Balai Kirti pada hari Kamis, 16 Desember 2021 pukul 10.00 s.d 12.00 WIB.

Selengkapnya
Pembukaan Pameran Kuliner Kegemaran Presiden Pertama  Republik Indonesia Sukarno Tanggal 9 – 10 Desember 2021 Berita
Pembukaan Pameran Kuliner Kegemaran Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno Tanggal 9 – 10 Desember 2021

Bogor (9/12), Berbicara mengenai Presiden akan selalu menjadi hal yang menarik. Selain prestasi, hal lain yang mungkin tidak diketahui masyarakat ialah mengenai makanan favorit sang Presiden. Tema inilah yang diangkat oleh Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dalam pameran “Kuliner Kegemaran Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno”.

Kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah “seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara belajar”. Masakan yang merupakan bagian dari karya manusia sudah tentu tercipta dari kearifan lokal masyarakat Indonesia. Ramuan yang terkandung dari setiap masakan tersedia di alam Indonesia. Bagaimana para pendahulu telah melakukan “riset” terlebih dahulu untuk menghasilkan cita rasa masakan yang lezat.

Karya masakan ini menjadi keunggulan setiap suku bangsa yang ada di Indonesia. Dahulu para raja memiliki cita rasa masakan yang tiada tara. Kita pun mengenal beberapa masakan yang hanya disajikan untuk sang raja karena memiliki kekhasan tersendiri yang diracik oleh juru masaknya. Sukarno sebagai “raja” (baca: Presiden) Indonesia pun tak kalah seleranya terhadap masakan. Lidah dan cita rasa Sukarno terhadap karya budaya berupa masakan dan kuliner Nusantara tersaji dalam pameran ini.

Dengan mengusung tema kuliner kesukaan Presiden ini, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha mengajak masyarakat untuk kembali mengenali jati diri dan khazanah budaya bangsa sebagai suatu aset. Makanan lokal sebagai akar dari ketahanan budaya. Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat semakin menghargai masakan lokal sebagaimana halnya Presiden Sukarno yang selalu menjunjung tinggi masakan khas Nusantara.

Selain itu, melalui pameran ini pula Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha untuk menampilkan Presiden dari sisi lain. Sayur Lodeh adalah salah satu menu kesukaan dari Presiden Sukarno. Ada pula Tempe bacem dan Pepes yang juga digemari oleh beliau. Pada pameran ini juga menyuguhkan beberapa koleksi peralatan jamuan makan yang biasa digunakan oleh Presiden. Selain itu ada pula foto-foto jamuan makan dari mulai era Gubernur Jenderal Hindia Belanda sampai Presiden Sukarno yang dahulu dilaksanakan di Istana Bogor.

Pameran ini juga menampilkan Chef Devina Hermawan (finalis Master Chef Indonesia season kelima) yang akan mendemonstrasikan resep masakan kesukaan Presiden Sukarno yaitu Sayur Lodeh, dan Tempe Bacem. Pameran kuliner dilaksanakan secara luring di  Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Bogor mulai dari tanggal 9 sampai dengan 10 Desember 2021. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi bagi masyarakat tentang keberagaman Indonesia dalam cita rasa kuliner nusantara. Hal ini senada dengan misi Pekan Kebudayaan Nasional tahun 2021 yang menitikberatkan kepada kearifan lokal sebagai akar ketahan budaya. Oleh karena itu sebagai bentuk dukungan program tersebut, pameran ini disusun dengan konsep pangan sebagai hal fundamental dalam kehidupan masyarakat.

Selengkapnya
Dialog “Refleksi 100 Tahun H.M. Soeharto” dan Pembukaan Pameran “Incognito Pak Harto” Berita
Dialog “Refleksi 100 Tahun H.M. Soeharto” dan Pembukaan Pameran “Incognito Pak Harto”

Bogor (06/12) Dalam rangka memperingati 100 Tahun Presiden ke-2 Republik Indonesia, Bapak H.M. Soeharto. Pada tangga 22 Juni 2021 lalu, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti melaksanakan Kegiatan Dialog “Refleksi 100 Tahun Pak Harto”, sekaligus Pembukaan Pameran “Incognito Pak Harto”. Pada kegiatan Dialog ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno (Wakil Presiden Republik Indonesia Ke-6), Prof. Arissetyanto Nugroho, MM. IPU (Ketua Pengurus Yayasan pengembangan pendidikan Indonesia Jakarta Universitas Trilogi), dan Mahpudi (Penulis Buku-Buku Pak Harto).

Sejak kecil, Pak Harto tidak bercita-cita menjadi seorang presiden. Tidak ada ambisi H.M. Soeharto menjadi seorang pemimpin negara ditegaskan lagi oleh Pak Try Sutrisno. Menurutnya, “sebagai ajudan saat itu, saya tahu ambisi Pak Harto, beliau tidak ambisi pada jabatan tapi pengabdiaan kepada bangsa Indonesia”. Prestasi-prestasi Pak Harto bagi bangsa Indonesia cukup besar, bahkan Prof. Arissetyanto Nugroho menyebut Presiden Soeharto sebagai pemimpin yang visioner yang melihat jauh ke depan dalam pembangunan bangsa. Lebih lanjut Prof. Aris pun menyampaikan, Pak Harto juga sangat berkomitmen agar bangsa ini memiliki character building yang kuat yang berbasis pada nilai-nilai ideologi yang sudah digali oleh para pendiri bangsa seperti Soekarno, yaitu Pancasila.

Di sisi lain penulis Buku Incognito Pak Harto, Mahpudi menyatakan bahwa, dalam perjalanan Pak Harto meninggalkan berbagai kesan dan pengalaman yang luar biasa, karena bisa merasakan karakter Presiden ke 2 Indonesia, H.M. Soeharto yang rendah hati, peduli, dan sholeh. “Tidak bisa kita bayangkan, seorang presiden dengan tanggung jawab yang sangat besar, bisa meninggalkan kantornya, yang pada etape pertama itu lima hari, dan pada etape kedua selama tujuh hari”.

Pada dialog ini banyak hal yang diinformasikan kepada masyarakat mengenai kisah perjalanan dan prestasi beliau semasa menjadi Presiden. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan informasi serta memberikan nilai positif yang dapat mengedukasi masyarakat untuk memahami pesan positif dari para pemimpin bangsanya.

Selengkapnya
Hibah Koleksi Prangko dan Buku Berita
Hibah Koleksi Prangko dan Buku

Pada tanggal 14 Oktober 2020 lalu, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti memperoleh hibah koleksi dari PT. POS Indonesia berupa tiga bingkai prangko dan empat buku. Penyerahan koleksi diserahkan langsung oleh Kepala Regional IV DKI Jakarta Bapak Onny Hadiono kepada Kepala Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Ibu Dewi Murwaningrum di lantai 1 Galeri Kebangsaan.

Koleksi prangko dan buku yang diserahkan merupakan koleksi prangko seri Presiden, Wakil Presiden, dan Ibu Negara. Koleksi ini merupakan produksi dari PT Pos Indonesia, yang dalam waktu dekat akan dipamerkan dalam rangka memberikan edukasi kepada pengunjung museum.

Berbicara prangko di tanah air tentunya tidak hanya berkembang pada masa kolonial, melainkan setelah Sukarno memproklamirkan kemerdekaan. Hal ini karena setelah kemerdekaan pemerintah Indonesia langsung menerbitkan prangko. Hal ini dilakukan agar pengiriman surat tidak lagi menggunakan prangko cerakan Belanda.

Prangko pertama Pemerintah RI diterbitkan untuk memperingati setengah tahun kemerdekaan, sekaligus menjadi penanda Indonesia telah terbebas dari penjajahan. Semoga dengan hibah koleksi perangko dan buku dapat menambah jumlah koleksi yang ada di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, sekaligus dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada pengunjung tentang prangko-prangko kepresidenan.

Selengkapnya