Berita


Reset
Kunjungan Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta Pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 Ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Berita
Kunjungan Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta Pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 Ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Foto di atas adalah saat Penyambutan Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 di Galeri Kebangsaan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti.

Bogor (24/05), Pada tanggal 23 Februari 2022 Museum Kepresidenan RI Balai Kirti mendapat kunjungan istimewa dari Rombongan Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020. Pada kunjungan kali ini hadir pula Bapak Wardiman Djojonegoro selaku Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia, sekaligus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998.

Foto Bapak Wardiman selaku Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia sedang mendapat penjelasan dari Ibu Neneng Kartiwi tentang koleksi museum di Galeri Kebangsaan.

Kedatangan para Finalis Putri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 disambut langsung oleh Ibu Neneng Kartiwi selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha didampingi para staf Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Di dalam museum Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 mendapat penjelasan tentang awal pendirian museum, koleksi museum, hingga rencana pengembangan museum ke depan.

Foto bersama Finalis Puteri Indonesia tahun 2022 beserta pemenang Puteri Indonesia tahun 2020 di depan Patung Enam Presiden.

Semoga dengan kunjungan ini, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dapat memberikan manfaat dan semakin menginspirasi masyarakat untuk berkunjung ke museum.

Selengkapnya
Serah Terima Hibah Koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto Berita
Serah Terima Hibah Koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto

Foto di atas saat Penyerahan Koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto dari Museum Purna Bhakti Pertiwi kepada Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Bogor (14/01), Pada tanggal 13 Januari 2022, Museum Purna Bhakti Pertiwi menghibahkan koleksi milik Ibu Tien Soeharto kepada Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Koleksi tersebut diserahkan secara langsung oleh Wakil Direktur Museum Purna Bhakti Pertiwi, Ir. Indrawati S. Harijadi kepada Drs. Fitra Arda, M.Hum. selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, didampingi oleh Kepala Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti Dra. Dewi Murwaningrum, M.Hum. dan Kurator Museum Purna Bhakti Pertiwi, Gunawan Wahyu Widodo, M.Hum., di Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta.

Foto proses Penandatanganan Berita Acara Penyerahan Koleksi Museum Puna Bhakti Pertiwi kepada Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Koleksi-koleksi yang dihibahkan antara lain Kebaya Motif Kembang, Kain Panjang, Selendang, Busana Batik Berwarna Hijau, Selop serta Sepatu Berwarna Hitam. Semasa hidup, Ibu Tien Soeharto gemar mengenakan kain batik dan kebaya lengkap dengan selendang berwarna senada. Koleksi-koleksi ini dikenakan oleh Ibu Tien Soeharto pada saat menjalankan tugasnya sebagai Ibu Negara.

Foto koleksi Ibu Negara Ke-2 Republik Indonesia Ibu Tien Soeharto yang dihibahkan untuk Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Penyerahan koleksi milik Ibu Negara ini sesuai dengan program kerja Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti terkait dengan pengelolaan koleksi. Salah satunya adalah kegiatan pengkajian dan pengumpulan koleksi terkait dengan sosok Ibu Negara. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi nilai dan informasi koleksi yang akan dipamerkan dan dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai bagian dari perjalanan hidup para Ibu Negara Republik Indonesia.

Foto bersama antara Museum Purna Bhakti Pertiwi dengan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Pengumpulan koleksi merupakan salah satu upaya yang dilakukan Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti untuk pengembangan museum ke depan. Tahapan selanjutnya adalah kajian yang hasilnya akan menjadi rekomendasi dalam menarasikan koleksi ke dalam tata pamer museum. Koleksi-koleksi ini tentunya juga akan menambah keragaman koleksi dan informasi yang dimiliki oleh Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, sehingga pengunjung bisa dapat menghayati, mengapresiasi, dan meneladani jejak langkah serta prestasi yang telah dicapai oleh masing-masing tokoh bangsa tersebut.

Selengkapnya
Kajian DED Tata Pamer Presiden Ke-7 Ir. H. Joko Widodo Berita
Kajian DED Tata Pamer Presiden Ke-7 Ir. H. Joko Widodo

Bogor (10/01), Pada tahun anggaran 2021, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti telah menyelesaikan kegiatan Kajian Detail Engineering Desain (DED) Tata Pamer Presiden ke-7 Ir. H. Joko Widodo. Kegiatan ini dilakukan sebagai rangkaian pengembangan Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 9 Desember 2021 dan dibuka secara langsung oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Bapak Hilmar Farid, Ph.D. dan dihadiri oleh beberapa narasumber seperti Erwin Wicaksono (Kepala Istana Kepresidenan Bogor), Sri Hartini (plt. Kepala Museum Nasional), Hernowo Muliawan, Yusuf BA (Sejarahwan), Didik Pradjoko (Sejarahwan), Timmy Setiawan (Arsitek), Yuke Ardhiati (Arsitek), Harry Trysatya Wahyu (Kepala Museum Perumusan Naskah Proklamasi), dan perwakilan UPT Museum di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Kajian DED Tata Pamer Presiden ke 7 sudah memasuki tahap akhir, dan akan dilanjutkan Kajian koleksi pada tahun 2022. Tata pamer untuk konten apa yang akan dipamerakan, sedang dikonsolidasikan dengan Kantor Staf Presiden, Sekretariat Presiden, Sekretariat Negara, Asisten Pribadi Presiden, Pihak Keluarga, dan orang terdekat Presiden.

Terima kasih kami sampaikan atas partisipasi, serta masukan dalam kajian ini. Semoga dapat memberikan manfaat untuk kemajuan permuseuman, khususnya Museum Kepresidenan RI Balai Kirti.

Selengkapnya
Kado Awal Tahun: Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti Mendapat Hibah Koleksi dari Wakil Presiden Ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla Berita
Kado Awal Tahun: Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti Mendapat Hibah Koleksi dari Wakil Presiden Ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla

Bogor (04/01), Pada senin, 3 Januari 2022, Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti kembali menerima hibah koleksi dari Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla. Koleksi tersebut diserahkan langsung oleh Jusuf Kalla didampingi oleh Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla kepada Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid, Ph.D. didampingi Kepala Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, Dra. Dewi Murwaningrum M.Hum. di kediaman pribadi beliau di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Jusuf Kalla menghibahkan koleksi semasa menjadi Wakil Presiden, dan koleksi-koleksi tersebut nantinya akan dirawat, dipamerkan, dan dipublikasikan kepada masyarakat di museum.

Koleksi yang dihibahkan oleh Jusuf Kalla selain berkaitan dengan pribadi (keluarga) juga koleksi yang mewakili prestasi dan kegiatan beliau baik di bidang sosial maupun pemerintahan. Beberapa koleksi yang dihibahkan berupa satu stel pakaian kerja, peralatan pendukung kerja, sepatu kerja, kemeja PMI, serta foto-foto kegiatan. Koleksi lainnya yang dihibahkan adalah milik Ibu Mufidah Jusuf Kalla, yaitu berupa satu stel kebaya, tas, dan selop. Pada kesempatan ini juga Jusuf kalla maupun Mufidah Jusuf Kalla menghibahkan buku-buku untuk menjadi koleksi di Perpustakaan Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti.

Hilmar Farid selaku Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menyambut baik penyerahan koleksi yang dimiliki oleh Jusuf Kalla kepada Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Menurutnya “Koleksi dan museum adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, dalam PP no 66 tahun 2015 tentang museum disebutkan bahwa museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. Hibah koleksi dari Pak JK ini akan memperkaya khazanah koleksi Wakil Presiden di Museum Kepresidenan. Koleksi ini akan menambah sumber informasi khususnya yang berkaitan prestasi para wakil presiden dalam menjalankan masa tugasnya mendampingi Presiden. Salah satu fungsi museum adalah memberikan edukasi kepada masyarakat, melalui koleksi ini Museum Kepresidenan dapat menginformasikan sejarah prestasi para wakil presiden dalam masa kepemimpinannya, sehingga diharapkan dapat memberikan wawasan kepemimpinan bagi generasi bangsa” tuturnya.

Penyerahan koleksi milik Wakil Presiden ini sesuai dengan program kerja Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti terkait dengan pengelolaan koleksi. Salah satunya adalah kegiatan pengkajian dan pengumpulan koleksi terkait dengan tokoh Wakil Presiden Republik Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi nilai dan informasi koleksi yang akan dipamerkan dan dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai bagian dari perjalanan hidup para Wakil Presiden Republik Indonesia.

Hibah koleksi merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk pengembangan Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Tahapan selanjutnya dari kegiatan ini adalah kegiatan kajian yang hasilnya akan menjadi rekomendasi dalam menarasikan koleksi tersebut ke dalam tata pamer di Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Koleksi-koleksi tersebut tentunya akan menambah keragaman koleksi dan informasi yang dimiliki oleh Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti, sehingga pengunjung bisa menghayati, mengapresiasi, dan meneladani jejak langkah serta prestasi yang telah dicapai oleh masing-masing Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia selama masa baktinya.

Selengkapnya
Talk Show Humanis B.J. Habibie : Cinta Tanpa Batas Berita
Talk Show Humanis B.J. Habibie : Cinta Tanpa Batas

Museum merupakan sarana akses informasi dan pengetahuan mengenai hal-hal umum yang terkait dengan nilai-nilai sejarah, budaya, dan memori kolektif bangsa. Museum harus mengedukasi masyarakat melalui informasi yang menarik serta inspiratif. Untuk itu pada akhir tahun 2019, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti menyelenggarakan kegiatan bincang-bincang di Museum. Konsep ini dipilih sebagai salah satu upaya mendekatkan museum kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar, civitas akademik, dan umumnya kaum milenial sebagai generasi muda strategis yang akan berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa kini maupun masa-masa mendatang. Kegiatan ini dapat terlaksana atas dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Pemerintah Kota Bogor, Yayasan Habibie dan Ainun, serta keluarga Bapak BJ Habibie.

Tema yang dibawa dalam bincang-bincang museum kali ini adalah “Cinta Tanpa Batas B.J. Habibie”. Tema ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk talkshow dengan maksud untuk mengenang Presiden Republik Indonesia yang ketiga Bacharudin Jusuf Habibie (alm). Sebagai individu maupun sebagai tokoh publik, Habibie banyak sekali memberikan sumbangan bagi kemajuan peradaban bangsa Indonesia. Beliau tidak pernah berhenti berpikir dan berbuat untuk menghasilkan karya bagi kemajuan bangsa. Tidak hanya meletakkan dasar tradisi keilmuan dan pengembangan teknologi yang kokoh, Habibie juga mengajarkan banyak tentang adab berpolitik, tata cara pemerintahan yang efektif, beragama dengan produktif, berkeluarga yang harmonis, dan banyak hal lainnya. Cintanya Habibie untuk Indonesia yang tanpa batas dapat terlihat dari keinginan kuat Habibie adalah bagaimana melahirkan putra-putri bangsa menjadi manusia yang pintar, setara serta bangsa yang unggul di dunia. Habibie sadar, bahwa dengan menyiapkan bibit-bibit unggul untuk generasi penerus bangsa, merupakan salah satu cara untuk menjadi sebuah bangsa yang maju.

Untuk mengenal lebih dalam tentang B.J. Habibie, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti telah melaksanakan Talkshow dengan tema Cinta Tanpa Batas B.J. Habibie yang dibuka langsung oleh Plt. Kepala Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, Judi Wahjudin pada tanggal 5 Desember 2019. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penghargaan kepada Bacharuddin Jusuf Habibie, karena telah memberikan pemikiran dan karyanya dalam membangun bangsa Indonesia. Acara ini dihadiri oleh pembicara utama Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), dan narasumber Ilham Akbar Hibibie, Manoj Punjabi, dan Reza Rahadian, dengan moderator Rosiana Silalahi dan Insana Abdul Adjid Habibie.

Selengkapnya
Bincang-Bincang Kuliner Kegemaran Presiden Ke-1 RI Sukarno Berita
Bincang-Bincang Kuliner Kegemaran Presiden Ke-1 RI Sukarno

Berbicara mengenai Presiden akan selalu menjadi hal yang menarik. Selain prestasi, hal lain yang mungkin tidak diketahui masyarakat ialah mengenai makanan favorit sang Presiden. Tema inilah yang diangkat oleh Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dalam pameran “Kuliner Kegemaran Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno”.

Masakan yang merupakan bagian dari karya manusia sudah tentu tercipta dari kearifan lokal masyarakat Indonesia. Ramuan yang terkandung dari setiap masakan tersedia di alam Indonesia. Bagaimana para pendahulu telah melakukan “riset” terlebih dahulu untuk menghasilkan cita rasa masakan yang lezat.

Karya masakan ini menjadi keunggulan setiap suku bangsa yang ada di Indonesia. Dahulu para raja pun memiliki cita rasa masakan yang tiada tara. Kita pun mengenal beberapa masakan yang hanya disajikan untuk sang raja karena memiliki kekhasan tersendiri yang diracik oleh juru masaknya.

Sukarno sebagai “raja” (baca: Presiden) Indonesia pun tak kalah seleranya terhadap masakan. Lidah dan cita rasa Sukarno terhadap karya budaya berupa masakan dan kuliner Nusantara tersaji dalam pameran ini.

Dengan mengusung tema kuliner kesukaan Presiden ini, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha mengajak masyarakat untuk kembali mengenali jati diri dan khazanah budaya bangsa sebagai suatu aset. Makanan lokal sebagai akar dari ketahanan budaya. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat semakin menghargai masakan lokal sebagaimana halnya Presiden Sukarno yang selalu menjunjung tinggi masakan khas Nusantara.

Melalui acara bincang-bincang kuliner kegemaran Presiden Sukarno ini pula Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha untuk menampilkan Presiden dari sisi lain. Bincang-bincang ini akan menghadirkan beberapa narasumber antara lain: Puti Guntur Sukarno, S.IP (Anggota DPR RI/cucu Presiden Sukarno), Endang Sumitra, S.H (Purna Istana Kepresidenan Bogor), dan Fadly Rahman, M.A (Sejarawan Makanan, Dosen Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran).

Acara ini akan dihadiri oleh :

  • Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek
  • Keluarga Museum se-Indonesia
  • Komunitas Handai Tuli
  • Kelompok Guru Pendidikan Vokasi Bisnis dan Pariwisata dengan Keahlian Tata Boga

Kegiatan bincang-bincang ini akan dibuka dengan sambutan dari Kepala Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti yaitu Ibu Dewi Murwaningrum.

Kemudian sambutan sekaligus pembukaan oleh Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat adat yaitu Bapak Sjamsul Hadi. Diselenggarakan secara daring melalui zoom meeting dan live streaming Youtube Museum Kepresidenan RI Balai Kirti pada hari Kamis, 16 Desember 2021 pukul 10.00 s.d 12.00 WIB.

Selengkapnya
Pembukaan Pameran Kuliner Kegemaran Presiden Pertama  Republik Indonesia Sukarno Tanggal 9 – 10 Desember 2021 Berita
Pembukaan Pameran Kuliner Kegemaran Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno Tanggal 9 – 10 Desember 2021

Bogor (9/12), Berbicara mengenai Presiden akan selalu menjadi hal yang menarik. Selain prestasi, hal lain yang mungkin tidak diketahui masyarakat ialah mengenai makanan favorit sang Presiden. Tema inilah yang diangkat oleh Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dalam pameran “Kuliner Kegemaran Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno”.

Kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah “seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan miliknya dengan cara belajar”. Masakan yang merupakan bagian dari karya manusia sudah tentu tercipta dari kearifan lokal masyarakat Indonesia. Ramuan yang terkandung dari setiap masakan tersedia di alam Indonesia. Bagaimana para pendahulu telah melakukan “riset” terlebih dahulu untuk menghasilkan cita rasa masakan yang lezat.

Karya masakan ini menjadi keunggulan setiap suku bangsa yang ada di Indonesia. Dahulu para raja memiliki cita rasa masakan yang tiada tara. Kita pun mengenal beberapa masakan yang hanya disajikan untuk sang raja karena memiliki kekhasan tersendiri yang diracik oleh juru masaknya. Sukarno sebagai “raja” (baca: Presiden) Indonesia pun tak kalah seleranya terhadap masakan. Lidah dan cita rasa Sukarno terhadap karya budaya berupa masakan dan kuliner Nusantara tersaji dalam pameran ini.

Dengan mengusung tema kuliner kesukaan Presiden ini, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha mengajak masyarakat untuk kembali mengenali jati diri dan khazanah budaya bangsa sebagai suatu aset. Makanan lokal sebagai akar dari ketahanan budaya. Dengan begitu, diharapkan masyarakat dapat semakin menghargai masakan lokal sebagaimana halnya Presiden Sukarno yang selalu menjunjung tinggi masakan khas Nusantara.

Selain itu, melalui pameran ini pula Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berusaha untuk menampilkan Presiden dari sisi lain. Sayur Lodeh adalah salah satu menu kesukaan dari Presiden Sukarno. Ada pula Tempe bacem dan Pepes yang juga digemari oleh beliau. Pada pameran ini juga menyuguhkan beberapa koleksi peralatan jamuan makan yang biasa digunakan oleh Presiden. Selain itu ada pula foto-foto jamuan makan dari mulai era Gubernur Jenderal Hindia Belanda sampai Presiden Sukarno yang dahulu dilaksanakan di Istana Bogor.

Pameran ini juga menampilkan Chef Devina Hermawan (finalis Master Chef Indonesia season kelima) yang akan mendemonstrasikan resep masakan kesukaan Presiden Sukarno yaitu Sayur Lodeh, dan Tempe Bacem. Pameran kuliner dilaksanakan secara luring di  Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Bogor mulai dari tanggal 9 sampai dengan 10 Desember 2021. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan informasi bagi masyarakat tentang keberagaman Indonesia dalam cita rasa kuliner nusantara. Hal ini senada dengan misi Pekan Kebudayaan Nasional tahun 2021 yang menitikberatkan kepada kearifan lokal sebagai akar ketahan budaya. Oleh karena itu sebagai bentuk dukungan program tersebut, pameran ini disusun dengan konsep pangan sebagai hal fundamental dalam kehidupan masyarakat.

Selengkapnya
Dialog “Refleksi 100 Tahun H.M. Soeharto” dan Pembukaan Pameran “Incognito Pak Harto” Berita
Dialog “Refleksi 100 Tahun H.M. Soeharto” dan Pembukaan Pameran “Incognito Pak Harto”

Bogor (06/12) Dalam rangka memperingati 100 Tahun Presiden ke-2 Republik Indonesia, Bapak H.M. Soeharto. Pada tangga 22 Juni 2021 lalu, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti melaksanakan Kegiatan Dialog “Refleksi 100 Tahun Pak Harto”, sekaligus Pembukaan Pameran “Incognito Pak Harto”. Pada kegiatan Dialog ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno (Wakil Presiden Republik Indonesia Ke-6), Prof. Arissetyanto Nugroho, MM. IPU (Ketua Pengurus Yayasan pengembangan pendidikan Indonesia Jakarta Universitas Trilogi), dan Mahpudi (Penulis Buku-Buku Pak Harto).

Sejak kecil, Pak Harto tidak bercita-cita menjadi seorang presiden. Tidak ada ambisi H.M. Soeharto menjadi seorang pemimpin negara ditegaskan lagi oleh Pak Try Sutrisno. Menurutnya, “sebagai ajudan saat itu, saya tahu ambisi Pak Harto, beliau tidak ambisi pada jabatan tapi pengabdiaan kepada bangsa Indonesia”. Prestasi-prestasi Pak Harto bagi bangsa Indonesia cukup besar, bahkan Prof. Arissetyanto Nugroho menyebut Presiden Soeharto sebagai pemimpin yang visioner yang melihat jauh ke depan dalam pembangunan bangsa. Lebih lanjut Prof. Aris pun menyampaikan, Pak Harto juga sangat berkomitmen agar bangsa ini memiliki character building yang kuat yang berbasis pada nilai-nilai ideologi yang sudah digali oleh para pendiri bangsa seperti Soekarno, yaitu Pancasila.

Di sisi lain penulis Buku Incognito Pak Harto, Mahpudi menyatakan bahwa, dalam perjalanan Pak Harto meninggalkan berbagai kesan dan pengalaman yang luar biasa, karena bisa merasakan karakter Presiden ke 2 Indonesia, H.M. Soeharto yang rendah hati, peduli, dan sholeh. “Tidak bisa kita bayangkan, seorang presiden dengan tanggung jawab yang sangat besar, bisa meninggalkan kantornya, yang pada etape pertama itu lima hari, dan pada etape kedua selama tujuh hari”.

Pada dialog ini banyak hal yang diinformasikan kepada masyarakat mengenai kisah perjalanan dan prestasi beliau semasa menjadi Presiden. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan informasi serta memberikan nilai positif yang dapat mengedukasi masyarakat untuk memahami pesan positif dari para pemimpin bangsanya.

Selengkapnya
Hibah Koleksi Prangko dan Buku Berita
Hibah Koleksi Prangko dan Buku

Pada tanggal 14 Oktober 2020 lalu, Museum Kepresidenan RI Balai Kirti memperoleh hibah koleksi dari PT. POS Indonesia berupa tiga bingkai prangko dan empat buku. Penyerahan koleksi diserahkan langsung oleh Kepala Regional IV DKI Jakarta Bapak Onny Hadiono kepada Kepala Museum Kepresidenan RI Balai Kirti Ibu Dewi Murwaningrum di lantai 1 Galeri Kebangsaan.

Koleksi prangko dan buku yang diserahkan merupakan koleksi prangko seri Presiden, Wakil Presiden, dan Ibu Negara. Koleksi ini merupakan produksi dari PT Pos Indonesia, yang dalam waktu dekat akan dipamerkan dalam rangka memberikan edukasi kepada pengunjung museum.

Berbicara prangko di tanah air tentunya tidak hanya berkembang pada masa kolonial, melainkan setelah Sukarno memproklamirkan kemerdekaan. Hal ini karena setelah kemerdekaan pemerintah Indonesia langsung menerbitkan prangko. Hal ini dilakukan agar pengiriman surat tidak lagi menggunakan prangko cerakan Belanda.

Prangko pertama Pemerintah RI diterbitkan untuk memperingati setengah tahun kemerdekaan, sekaligus menjadi penanda Indonesia telah terbebas dari penjajahan. Semoga dengan hibah koleksi perangko dan buku dapat menambah jumlah koleksi yang ada di Museum Kepresidenan RI Balai Kirti, sekaligus dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada pengunjung tentang prangko-prangko kepresidenan.

Selengkapnya
Pembukaan Pameran dan Dialog Sejarah: Sukarno dan Buku-Bukunya Berita
Pembukaan Pameran dan Dialog Sejarah: Sukarno dan Buku-Bukunya

Salah satu jenis program publik yang dilaksanakan oleh Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti adalah masyarakat yang mengapresiasi museum. Dalam rangka meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum, pada tanggal 24 November 2020 lalu Museum Kepresidenan RI Balai Kirti melaksanakan kegiatan Pameran Daring dan Dialog Sejarah yang bertajuk Sukarno dan Buku-bukunya.

Sukarno sangat kaya akan pengetahuan karena membaca. Untuk itu sebagai upaya menumbuhkan minat budaya membaca, sekaligus melestarikan memori kolektif bangsa melalui museum. Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti bekerjasama dengan redaksi Historia.Id melaksanakan Pameran Daring dan Dialog Sejarah terkait dengan koleksi buku-buku Sukarno.

Pembukaan pameran dan Dialog Sejarah Sukarno dan Buku-Bukunya menghadirkan Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri (Presiden ke-5 RI), Bapak Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), Hilmar Farid (Direktur Jenderal Kebudayaan). Dan beberapa narasumber lain seperti, Bonnie Triyana, Roso Daras, dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri. Pembukaan pameran dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Nadiem Makarim. Dalam sambutannya Ia mengajak para pemuda Indonesia untuk meneladani semangat dan kegemaran Bung Karno dalam  membaca buku.

Pada kesempatan yang sama Presiden Ke-5 RI, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri menggatakan bahwa ayahnya sering membaca disetiap waktu. Bahkan buku koleksi Bung Karno mencapai puluhan ribu, dari dalam negeri maupun luar negeri. Akibat pendidikan itu, Bung Karno sangat haus dengan buku. Bukan hanya buku sebagai jendela dunia, tetapi juga masuk ke dalamnya.

Pada sesi diskusi sejarah yang menghadirkan tiga narasumber, yakni Bonnie Triyana, Roso Daras, dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri. Ketiga narsum menjelaskan bahwa Kesukaan Bung Karno pada buku bukan rahasia. Sejak kecil, Bung Karno telah terbiasa membaca buku. Bapak Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo yang aktif sebagai anggota perkumpulan Theosofi jadi muaranya. Berkat hak istimewa itu, Sukarno tak saja membaca buku koleksi orang tuanya, tapi ia dapat mengakses sebuah perpustakan besar miliki kaum Theosofi dengan bebas.

Saat ini kegiatan pameran telah berakhir, tetapi pameran masih dapat dinikmati tanpa batas melalui website http://balaikirti.kemdikbud.go.id.

Selengkapnya
Penyerahan Hibah Koleksi Bapak Umar Wirahadikusuma (Wakil Presiden RI Ke-4) dan Bapak Boediono (Wakil Presiden RI Ke-11) Berita
Penyerahan Hibah Koleksi Bapak Umar Wirahadikusuma (Wakil Presiden RI Ke-4) dan Bapak Boediono (Wakil Presiden RI Ke-11)

Ibu Karlinah Djaja Atmadja Wirahadikusumah (Istri Alm. Bapak Umar Wirahadikusuma) bersama Ibu Dewi Murwaningrum (Kepala Museum Kepresidenan RI Balai Kirti)

Bogor (16/11), Menjelang Hari Ulang Tahun Museum Kepresidenan RI Balai Kirti ke-7 tanggal 18 Oktober 2021. Museum Kepresidenan mendapatkan kado istimewa, berupa hibah koleksi pribadi dari dua Wakil Presiden Republik Indonesia, yakni dari keluarga Bapak Umar Wirahadikusumah (Wakil Presiden ke-4 RI Periode 1983-1988), dan Bapak Boediono (Wakil Presiden ke-11 RI Periode 2009-2014) pada tanggal 08 Oktober 2021. Koleksi para Wakil Presiden diserahkan secara langsung oleh pihak keluarga kepada Museum Kepresidenan RI Balai Kirti yang diterima langsung oleh Kepala Museum Ibu Dewi Murwaningrum di kediaman pribadi Bapak Alm. Umar Wirahadikusuma dan Bapak Boediono.

Ibu Karlinah Djaja Atmadja Wirahadikusumah (Istri Alm. Bapak Umar Wirahadikusuma) bersama tim dari Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Keluarga Bapak Alm. Umar Wirahadikusuma menghibahkan koleksi berupa satu stel pakaian sipil lengkap, satu buah jas kerja bermotif kotak-kotak, dan satu buah buku biografi Umar Wirahadikusuma: Menegakkan Kebenaran Dalam Diam milik Jenderal (Purn.) Umar Wirahadikusuma, Wakil Presiden Republik Indonesia ke-4. Koleksi diserahkan secara langsung oleh Ibu Karlinah Djaja Atmadja Wirahadikusumah (Istri Alm. Umar Wirahadikusuma) dikediamannya di Menteng Jakarta Pusat.

Penyerahan hibah koleksi dari Ibu Karlinah Djaja Atmadja Wirahadikusumah (Istri Alm. Umar Wirahadikusuma) ke Ibu Dewi Murwaningrum (Kepala Museum Kepresidenan RI Balai Kirti)

Sedangkan Bapak Boediono menghibahkan koleksi berupa satu bingkai foto resmi Bapak dan Ibu saat menjabat sebagai Wakil Presiden, Satu buah foto Bapak dan keluarga, satu baju batik yang perna digunakan pada saat menjabat Wakil Presiden, Satu Stel baju batik Ibu, satu buah pulpen yang dipakai sehari-hari saat waktu menjabat, satu bendel foto “membangun pendidikan” isi 3 lembar, satu bendel foto “meninjau bencana alam” isi 6 lembar, satu bendel foto “meninjau proyek PNPM” isi 5 lembar. Satu bendel foto “membangun infrastruktur” isi 4 lembar. Satu bendel foto “rapat reformasi birokrasi” isi 2 lembar, buku “memorandum akhir masa jabatan Wakil Presiden Boediono Periode 2009-2014. Hibah koleksi diserahkan langsung melalui ajudan beliau Bapak Priyanto di kediaman pribadi Bapak Boediono di Menteng Jakarta Pusat.

Proses penandatanganan Berita Acara Serah Terima Koleksi dari Bapak Priyanto (Ajudan Bapak Boediono ) kepada tim Museum Kepresidenan RI Balai Kirti

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti dalam pengembangan koleksi yang ada. Tahapan berikutnya setelah hibah ini adalah kajian tentang koleksi yang diserahkan, yang nantinya akan dinarasikan ke dalam tata pamer di Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti. Dengan adanya koleksi tersebut, diharapkan dapat menambah koleksi tentang Wakil Presiden di Museum, sekaligus menjadi sarana mengenalkan sosok pemimpin bangsa yang sudah purna bakti.

 

Selengkapnya
Mendongeng Bersama Ibu Menteri Berita
Mendongeng Bersama Ibu Menteri

Pada 19 April 2021, Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti yang merupakan salah satu UPT di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelengarakan kegiatan Mendongeng di Museum secara daring. Hal ini dilakukan sebagai salah satu layanan edukasi sekaligus upaya dalam menjalankan tugas dan fungsi museum dalam memberikan informasi terkait dengan penguatan pendidikan karakter bangsa melalui nilai-nilai perjuangan. Selain itu kegiatan ini juga dilaksanakan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, Museum Kepresidenan Republik Indonesia berkolaborasi dengan Komunitas Seni Berbagi (SEBA) dan Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat Indonesia (PLJ).

Dongeng akan dibacakan oleh Ibu Franka Nadiem Makarim selaku Ibu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus Ibu Ketua Dharma Wanita Persatuan Kemendikbud. Adapun tema mendongeng di museum ini adalah “Kepahlawan Ibu Negara Fatmawati Sukarno”. Terkait dengan tema yang diangkat dalam kegiatan ini, bahwa sosok Ibu Negara, Fatmawati, merupakan salah satu perempuan yang memiliki peran penting dalam upaya Kemerdekaan Republik Indonesia. Khususnya, dalam perjuangan beliau dalam menjahit Bendera Merah Putih yang kemudian dikibarkan pada saat Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945.

Terselenggaranya kegiatan mendongeng di museum ini, diharapkan dapat menjadi bahan publikasi dan informasi, serta menjadi sarana edukasi yang menyenangkan kepada masyarakat luas, khususnya oleh anak-anak. Karena Melalui dongeng, tidak hanya cerita yang dapat disampaikan namun juga pesan moral, serta pesan edukasi yang akan diingat dan diperoleh oleh seluruh pendengar. Sehingga dapat menambah pengetahuan, menumbuhkan inspirasi, dan kreativitas bagi semua lapisan masyarakat yang menyaksikan acara ini.

Dengan demikian, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk lebih mudah mendapatkan akses informasi dan pengetahuan mengenai hal-hal umum yang terkait dengan museum, nilai-nilai sejarah, dan memori kolektif bangsa, juga untuk menjalin kerja sama antara museum dengan komunitas, serta sebagai bentuk partisipasi nyata dalam mendukung program pemerintah di bidang penguatan karakter dan jati diri bangsa.

Selengkapnya